Di tengah hari yang berjalan seperti biasanya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas begitu saja: jangan-jangan, kita memang hanya sedang hidup di dalam sebuah antrean panjang. Sebuah barisan tidak kasatmata yang menyesakkan, membosankan, dan kerap kali menjengkelkan. Kita beringsut pelan, menatap punggung waktu, lelah bersandar pada rutinitas, dan sering kali tanpa tahu pasti kapan giliran kita benar-benar tiba. Menunggu, bergeser sedikit, lalu menunggu lagi. Namun, kesadaran yang tiba-tiba itu pelan-pelan bermuara pada satu pemahaman lain. Jika memang kehidupan ini pada dasarnya adalah perihal mengantre, lantas dari mana datangnya kerelaan yang sebegitu besar ini? Mengapa kaki kita memilih untuk tetap berpijak di dalam barisan, menahan segala kepengapannya, dan tidak melangkah keluar begitu saja untuk mencari pintu pergi? Sebab, pasti ada sesuatu. Tentu selalu ada alasan mengapa kita memilih merelakan diri masuk ke dalam barisan ini. Tidak ada manusia yang bersedia menukarkan sis...