Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk merapikan dunia agar muat ke dalam kotak bernama logika. Kita menganggap nalar sebagai penggaris absolut yang bisa mengukur segala hal yang ada di alam semesta. Jika sesuatu tidak bisa dijelaskan oleh kausalitas, jika sesuatu tidak punya bukti empiris yang bisa dipegang, kita dengan cepat melabelinya sebagai "omong kosong" atau "tidak masuk akal." Tapi, bukankah ini bentuk arogansi yang sangat purba? Kita memperlakukan logika seperti sebuah jangkar. Ia memang penting untuk menjaga kita tetap berpijak di atas tanah, agar tidak hanyut dalam kekacauan persepsi. Namun, menganggap bahwa jangkar itu adalah satu-satunya benda yang ada di lautan adalah kekeliruan besar. Jika sistem penalaran manusia hanya mampu menjangkau sebatas bumi, apakah lantas kita harus mengingkari keberadaan bulan dan matahari hanya karena mereka berada di luar jangkauan penggaris kita? Jika cakrawala nalar kita hanya sebatas Bimasakti, apakah bijak jik...