Aku sudah lama berhenti percaya bahwa daya pikat lahir dari suara yang paling keras, senyum yang paling sering dipamerkan, atau kehadiran yang paling sibuk mencari perhatian. Yang memikat orang pada akhirnya bukanlah keramaian. Melainkan ketenangan yang tidak goyah. Melainkan seseorang yang tidak berusaha membuktikan dirinya, karena dirinya memang sudah berdiri. Aku tidak datang untuk menjadi tempat orang bersandar karena iba. Aku tidak ingin dicintai karena kasihan, atau dipilih karena kebetulan. Kalau seseorang mendekat, biarlah karena ia merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya: bahwa di dekatku, ia tidak perlu menjadi terlalu siap, terlalu rapi, atau terlalu hebat untuk tetap dihormati. Aku percaya cinta yang dewasa tidak lahir dari rasa butuh. Ia lahir dari kesadaran. Dari dua manusia yang tahu arah hidupnya, tahu batasnya, tahu nilai dirinya, lalu memilih saling mendekat tanpa saling mengurung. Aku bukan pria yang sibuk mengejar semua mata. Aku lebih tertarik menjad...