Kita hidup di dunia di mana perempuan diajar untuk bersiap menghadapi pengkhianatan sejak hari pertama mereka mengenal arti hubungan. Wajar jika kemudian, cinta dari seorang pria tidak pernah bisa diterima begitu saja di atas meja. Ia selalu datang dengan bayang-bayang keraguan yang mengekor di belakangnya. Orang-orang seolah sepakat untuk berasumsi bahwa niat seorang pria selalu punya udang di balik batu. Ketika dia mendekat, dicurigai mau memanfaatkan. Ketika dia memilih untuk bertahan, dicurigai punya agenda tersembunyi. Ketika dia mengatakan cinta, kata itu sering kali langsung disaring lewat saringan skeptisme, dianggap sebagai kalimat klise yang diobral demi memuluskan sebuah tujuan. Cinta seorang pria diletakkan di atas meja bedah sebelum sempat ia buktikan bentuknya. Ia diuji oleh prasangka, dihakimi oleh luka-luka masa lalu yang bahkan tidak ia perbuat, dan dipandang dengan mata yang selalu mencari celah kebohongan. Ada beban tersendiri yang jarang dibicarakan ketika seora...