Pagi ini, sebuah obrolan singkat tanpa permisi mengusik sisa ketenangan yang susah payah kubangun. Tiba-tiba saja, aku ditampar oleh kenyataan bahwa waktu sudah berlari terlalu jauh. Dulu, aku punya semacam cetak biru. Titik-titik pencapaian yang dengan angkuhnya kuyakini akan singgah tepat pada waktunya. Nyatanya? Mereka hanya lewat. Menumpang lewat lalu menguap begitu saja, seolah menertawakan angan-angan itu. Aku mematung, baru menyadari bahwa satu bulan lagi, usiaku menginjak 27 tahun. Aku akan menjadi pria 27 tahun yang berdiri canggung di tengah masa depan yang sama sekali tidak mirip dengan skenario si remaja naif di masa lalu. Kepalaku riuh bertanya, apa yang harus disiapkan? Apakah aku memang harus bersiap? Ironisnya, semakin keras aku berpikir, semakin aku sadar bahwa 'kesiapan' itu hanyalah omong kosong. Ia tidak pernah benar-benar datang. Di balik wajah yang menua ini, aku masihlah bocah yang sama. Bocah rapuh yang terlalu mudah goyah oleh angin keraguan. Bedanya...