Ada satu kata tanya yang menjadi akar dari hampir seluruh kecemasan manusia: kapan? Kapan aku menikah? Kapan semua penderitaan ini berakhir? Kapan aku akan mati? Kita melempar pertanyaan-pertanyaan ini ke ruang hampa, berharap akan ada gema yang datang membawa kepastian. Kita memikul harapan di pundak, mencoba mengukur ketidakpastian dengan jam dinding, seolah waktu adalah entitas yang bisa diajak bernegosiasi. Ketika desakan itu mencapai titik nadir, saat rasa takut akan ketidaktahuan sudah tak lagi tertahankan, manusia sering kali berlindung di balik frasa pamungkas: "Biar waktu yang menjawab." Kita mengucapkannya dengan nada yang terdengar bijak, seolah-olah waktu adalah hakim agung yang sedang menyusun putusan di balik layar. Namun, jika kita cukup berani untuk membongkarnya, kalimat itu hanyalah bentuk penyerahan diri yang paling halus. Itu adalah cara kita memarkir kecemasan di tempat yang jauh agar tidak perlu kita hadapi sekarang. Padahal, waktu bukanlah sosok yang hi...