Ada pola yang berulang dalam cara manusia berinteraksi dengan apa yang kita sebut takdir. Sebuah siklus yang, jika diamati dengan jujur, sebenarnya sangat pengecut. Kita mulai dengan kepercayaan penuh, lalu ketika segalanya meleset dari rencana, kita mulai menyalahkan. Setelah itu, kita jatuh ke dalam ketidakpercayaan yang sinis, sebelum akhirnya, entah bagaimana, kita mencoba kembali percaya saat keadaan membaik. Kita menjadikan takdir sebagai samsak tinju untuk melampiaskan kekecewaan, sekaligus sebagai tempat persembunyian untuk menghindari tanggung jawab atas kegagalan kita sendiri. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang yang lebih rasional, takdir itu tidak pernah menjadi musuh. Ia hanyalah sebuah konstanta; sebuah struktur atau cetak biru yang ada di luar jangkauan eksekusi kita. Menganggap takdir sebagai lawan yang harus ditaklukkan hanya akan menghabiskan energi. Ia keras saat dilawan karena kita membuang daya untuk mencoba mengubah sesuatu yang sudah menetap. Namun, ia men...