Ada sebuah suara yang terkadang lebih bising daripada teriakan: bunyi notifikasi di jam dua pagi yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa pun. Aku sering melihatnya. Percakapan yang menggantung di udara seperti asap rokok yang enggan hilang namun juga tak bisa digenggam. Kita berada di era di mana "kebebasan" sering kali hanyalah nama lain dari ketakutan untuk memilih satu arah. Kita membiarkan pintu-pintu tetap setengah terbuka, hanya agar kita punya jalan keluar saat segalanya mulai terasa terlalu nyata. Tapi, bukankah angin yang masuk dari celah pintu itu justru yang paling sering membuat kita menggigil? Banyak yang bangga dengan permainan ini. Tentang siapa yang paling lambat membalas pesan, atau siapa yang paling sedikit menunjukkan ketertarikan. Seolah-olah, dalam perlombaan ini, pemenangnya adalah dia yang paling tidak peduli. Bagiku, itu adalah keletihan yang tidak perlu. Aku tidak pernah suka berada di ambang pintu. Bukan karena aku terburu-buru, tapi ka...