Aku sering memperhatikan betapa anehnya cara banyak orang tua melihat anak-anak mereka. Mereka menatap sang anak bukan sebagai seorang manusia yang sedang tumbuh, melainkan sebagai perpanjangan tangan dari mimpi mereka sendiri yang kandas. Mereka ingin anak menjadi "versi perbaikan" dari diri mereka, lengkap dengan pilihan hidup, selera, bahkan cara pandang yang harus sama persis. Mereka lupa bahwa anak bukan cermin yang diciptakan untuk memantulkan bayangan kita. Anak adalah individu dengan cetak biru yang sama sekali berbeda. Lucunya, kita sering membicarakan keluarga dengan narasi yang salah. Padahal, kalau mau jujur, keluarga itu seperti taman. Taman yang paling indah di dunia ini bukan taman yang isinya seragam, seperti barisan pabrik yang mencetak bunga mawar dengan warna yang sama persis. Taman yang memukau justru yang heterogen, yang warnanya saling bertabrakan, yang jenisnya berbeda-beda, dan semuanya mekar pada waktunya sendiri. Tapi banyak orang tua lupa akan...