Aku sering memperhatikan bagaimana kota ini seolah-olah tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk berhenti. Di antara deru mesin dan cahaya lampu jalan, aku melihat wajah-wajah yang selalu tampak seperti sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat. Ada sebuah ketegangan yang tertinggal di sudut mata mereka. Sebuah ketakutan bahwa jika mereka melambat satu detik saja, dunia akan meninggalkan mereka jauh di belakang. Terutama bagi mereka yang sedang berada di persimpangan usia dua puluhan. Dunia menuntut mereka untuk memiliki segalanya: karier yang melesat, tabungan yang mapan, dan kehidupan sosial yang selalu tampak "sibuk" dan berharga. Padahal, sering kali yang paling mereka butuhkan bukanlah kecepatan, melainkan sebuah izin untuk sekadar menjadi manusia yang biasa saja. Aku tidak pernah terkesan dengan seberapa banyak daftar pencapaian yang bisa dipamerkan dalam satu percakapan. Bagiku, itu hanyalah kebisingan lain. Aku justru lebih tertarik pada cara seseorang menikm...