Ada satu sisi dari ingatan manusia yang terkadang terasa sangat absurd. Kita sering lupa pada hal-hal besar, janji-janji manis, perayaan hari jadi, atau rangkaian kata yang disusun rapi untuk memuji. Namun, otak justru secara selektif mengarsipkan detail-detail remeh yang seharusnya sudah menguap begitu saja. Hal-hal mikroskopis. Seperti cara jemarinya yang secara tidak sadar selalu mengetuk meja tiga kali setiap kali ia merasa cemas. Atau bagaimana sesuatu yang ia kenakan, sesuatu yang tampak sangat sederhana, mungkin sedikit longgar di satu sisi, selalu ia rapihkan berulang kali saat sedang berpikir keras. Aku juga mengingat aroma parfumnya, yang tidak pernah benar-benar tajam, namun selalu tertinggal di udara bahkan setelah ia beranjak pergi. Sesuatu yang samar, seperti perpaduan antara hujan dan buku tua. Dan cara ia termenung; tatapannya yang kosong, yang seolah sedang menarik diri dari kebisingan dunia ke dalam lanskap di dalam kepalanya sendiri. Ada jeda yang panjang setia...