Aku tahu hidupku tidak pernah tenang.
Sejak awal, ia dipenuhi badai. Sebagian datang dari luar, sebagian lagi lahir dari keputusanku sendiri. Aku tidak asing dengan pusaran, tidak kaget pada gelombang besar, dan tidak lagi heran ketika hidup kembali menguji ketahananku.
Jika ini sebuah pelayaran, maka ini adalah ekspedisi laut yang keras.
Bukan perjalanan singkat, bukan rute aman. Berkali-kali aku hampir tenggelam. Berkali-kali aku merasa nyaris mati, bukan karena ombak, tapi karena lelah yang menumpuk tanpa sempat diurai. Namun setiap kali itu juga, aku bertahan. Aku selalu bertahan.
Dan di situlah pertanyaannya mulai muncul.
Setelah semua badai itu, setelah seluruh upaya untuk tetap hidup, mengapa yang tersisa justru kehampaan?
Aku selamat, ya.
Aku tidak hancur.
Aku tidak menyerah.
Tapi hidup terasa berjalan lurus, datar, tanpa sesuatu yang benar-benar terasa berarti. Tidak ada rasa tiba. Tidak ada perasaan menang. Tidak juga rasa kalah. Hanya bergerak, terus bergerak, seolah bertahan itu sendiri menjadi tujuan, bukan jalan menuju sesuatu.
Aku mulai meragukan perjalanan ini.
Perjalanan macam apa yang menuntut begitu banyak ketahanan, tapi tidak memberi bayaran yang terasa nyata?
Jika bukan kemenangan, lalu apa sebenarnya upah dari berhasil melewati kesulitan hidup?
Aku tidak menemukan piala, tidak juga kelegaan yang dijanjikan banyak orang. Yang kudapati justru kesadaran sunyi: bahwa bertahan tidak selalu menghadiahkan kebahagiaan, kadang hanya memperpanjang jarak antara diri dan rasa. Barangkali bayaran itu bukan rasa senang, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri meski tak lagi berharap banyak.
Mungkin aku tidak kehilangan arah.
Mungkin aku hanya kehilangan rasa setelah terlalu lama menjadikan bertahan sebagai satu-satunya tujuan.
Karena tidak semua pelayaran yang selamat berarti sampai.
Sebagian hanya membuktikan bahwa kita kuat, tanpa pernah memberi tahu ke mana kekuatan itu seharusnya membawa kita.
Dan di titik ini, aku tidak lagi bertanya apakah aku mampu bertahan.
Aku sudah menjawab itu berkali-kali.
Yang ingin kutahu sekarang hanya satu:
jika aku terus bertahan, aku sebenarnya sedang menuju apa?
Komentar
Posting Komentar