Aku sering berdiri di depan deretan papan bunga yang berjajar tegak di lobi gedung, mengamati bagaimana manusia membangun monumen kecil untuk ego mereka. Bagiku, papan-papan itu bukan sekadar ucapan selamat atau duka; mereka adalah juru bicara kelas sosial yang berteriak tentang siapa yang mengirim dan siapa yang dianggap penting untuk menerima. Aku melihatnya sebagai sebuah arsitektur validasi. Semakin ramai bunganya, semakin panjang deretnya, semakin tinggi pula posisi yang sedang dirayakan dalam hierarki dunia yang bising ini.
Ada ironi yang sangat jernih saat aku memperhatikan tangan-tangan yang merangkai setiap huruf dan pita tersebut. Mereka adalah para pekerja yang membangun kemewahan untuk orang-orang yang mungkin tidak akan pernah menjabat tangan mereka. Namun, aku tidak lagi menatap mereka dengan rasa iba yang dangkal. Aku menghormati mereka sebagai bagian dari mesin realitas yang jujur, yang menciptakan keindahan sementara bagi mereka yang haus akan pengakuan. Aku menyadari bahwa di dunia ini, banyak orang lebih memilih memotret simbol daripada memahami proses, dan aku memilih untuk tidak menjadi bagian dari kebutaan itu.
Aku mengamati bagaimana warna-warna mencolok itu perlahan memudar dan huruf-hurufnya terlepas satu per satu. Papan bunga adalah pengingat yang sempurna tentang betapa singkatnya sebuah pengakuan duniawi. Ia semerbak di pagi hari, lalu menjadi sampah di sore hari berikutnya. Aku telah sampai pada satu titik di mana aku tidak lagi membutuhkan "pita" atau "nama besar" untuk menentukan koordinat keberadaanku. Aku memahami bahwa pengakuan yang dirangkai indah hanyalah selubung bagi keheningan yang sesungguhnya akan kita hadapi sendiri pada akhirnya.
Seseorang tidak ditentukan oleh seberapa panjang deretan bunga yang dikirimkan atas namanya, melainkan oleh substansi yang tetap ada saat semua bunga itu telah dibuang. Aku tidak lagi tertarik pada perayaan simbolik yang melelahkan. Aku memilih untuk merawat apa yang nyata, apa yang tidak layu oleh waktu, dan apa yang tidak membutuhkan papan besar untuk membuktikan nilainya. Aku berdiri di antara karangan bunga itu bukan sebagai bagian dari sirkus tersebut, melainkan sebagai saksi yang tenang bahwa pada akhirnya, yang tersisa hanyalah jejak integritas yang kita tanam dalam diam.
Komentar
Posting Komentar