Aku telah melakukan sebuah kesalahan mendasar: mengira bahwa dengan menghapus jejak, aku sedang memperbaiki diri. Hari ini, aku berhenti menjadi hakim yang kejam bagi batin sendiri. Aku menyadari bahwa haus akan validasi dan obsesi pada kesempurnaan hanyalah topeng dari ketakutanku untuk terlihat tidak cukup di mata dunia. Aku mengakui bahwa selama ini aku telah mengkhianati pertumbuhanku sendiri setiap kali aku menekan tombol "reset" pada blog ini. Tidak ada wibawa dalam sebuah awal yang baru jika ia selalu dibangun di atas reruntuhan masa lalu yang sengaja dimusnahkan.
Aku memahami sekarang bahwa perfeksionisme yang menyesakkan ini bukan sebuah kelebihan, melainkan sebuah beban yang menghambat langkahku untuk benar-benar hidup. Aku berhenti menyusun strategi perang untuk menghindari kegagalan, karena aku menyadari bahwa rencana "B" hanya akan bermakna jika aku memiliki keberanian untuk menerima kekacauan pada rencana "A". Aku menolak untuk terus berjalan di tempat hanya karena aku takut meninggalkan noda pada lintasan yang kulewati. Kekurangan tidak membunuh; yang membunuh adalah keheningan yang lahir dari ketakutan untuk berbuat salah.
Masa laluku, dengan segala tulisan yang goyah dan logika yang berantakan. Adalah pondasi yang selama ini kusepelekan. Aku berhenti menganggap bahwa standarku hari ini harus membatalkan keberadaan diriku yang kemarin. Aku memilih untuk membiarkan setiap kalimat, setiap kesalahan, dan setiap celah tetap ada sebagai bukti bahwa aku adalah manusia yang sedang berproses. Menjadi tidak sempurna bukan lagi sebuah hukuman bagiku; ia adalah pengakuan kedaulatan bahwa aku adalah pemilik tunggal atas narasiku sendiri.
Hari ini, aku memilih untuk membiarkan tulisan ini hidup apa adanya. Aku tidak akan menghapusnya hanya karena ia tidak memenuhi standar khayalan yang terus bergerak menjauh. Satu kalimat yang jujur, meski goyah, jauh lebih berwibawa daripada ribuan kata indah yang tidak pernah berani dipublikasikan. Aku tidak lagi mengejar kesembuhan dari perfeksionisme; aku sedang menetapkan otoritas atas ketidaksempurnaanku. Terima kasih pada diriku sendiri karena akhirnya berani untuk tetap tegak, bahkan saat langkahku tidak presisi.
Komentar
Posting Komentar