Pertama-tama, aku meminta maaf kepada diriku sendiri.
Hari ini, aku memilih jujur, bukan kepada dunia, tapi kepada diriku.
Menjadi manusia yang penuh ketakutan bukan pilihanku. Namun aku hidup dengan rasa haus akan validasi. Aku kerap mengambil keputusan hanya agar terlihat baik di mata orang lain, bahkan di mataku sendiri. Ironisnya, dari sudut mana pun, aku selalu merasa tidak cukup.
Hari-hariku dihabiskan untuk menilai, mengkritik, lalu menghukum diri sendiri. Blog ini menjadi saksi bisu. Entah berapa ribu kata yang telah kuhapus. Polanya sederhana, menekan tombol "reset". Alasannya pun sama, aku merasa tidak cukup baik. Aku menjadi hakim bagi diriku sendiri, dan hukumannya selalu sama, menghapus jejak lalu memulai lagi.
Ketakutan itu melahirkan perfeksionisme yang menyesakkan. Aku mengenali gejalanya, merasakannya, dan akhirnya memahami bahwa ini kebiasaan buruk yang harus dihentikan. Tidak semua hal harus sempurna. Kekurangan tidak membunuh. Celah kecil dalam hidup bukan kegagalan. Ia bagian dari menjadi manusia.
Aku menjalani hidup seperti menyusun strategi perang, selalu ada rencana A sampai Z. Tapi aku lupa satu hal penting. Rencana B tidak berarti bila aku tidak pernah mengikhlaskan kegagalan rencana A. Aku tidak belajar, aku menghapus. Aku tidak memperbaiki, aku mengulang. Selalu memulai kembali tanpa pondasi dari masa lalu. Wajar bila hidup terasa berjalan di tempat.
Tidak ada yang baru. Pola yang sama. Kesalahan yang sama. Keras kepala yang sama.
Waktu mengajarkan satu hal. Masa lalu tidak bisa dan tidak harus dihapus. Ia ada untuk diterima dan dipahami, bukan dimusnahkan.
Aku sering berkata, "Aku membuat kesalahan, maka aku harus menghapusnya." Standarku hari ini membatalkan standarku kemarin. Tidak ada hasil yang bertahan. Tidak pernah ada "cukup baik". Hanya kesempurnaan yang terus bergerak menjauh.
Dan aku lelah.
Hari ini, aku memilih sembuh dari kesempurnaan. Satu-satunya jalan adalah berani tidak sempurna. Karena ternyata, menjadi tidak sempurna itu tidak apa-apa.
Seperti tulisan ini. Ia tidak sempurna. Namun kali ini, aku membiarkannya hidup, bukan menghapusnya. Lebih baik satu kalimat yang goyah daripada tidak ada kalimat sama sekali.
Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar