Aku menyadari satu hukum yang tenang dalam hidup: frekuensi yang dalam tidak pernah membutuhkan pengeras suara. Di dunia yang begitu mencintai gema dan volume, aku berhenti merasa perlu memenangkan panggung yang hanya merayakan sorak-sorai. Aku memahami bahwa keheningan sering kali disalahartikan sebagai ketiadaan, namun bagiku, hening adalah ruang penyaringan yang paling jujur. Aku tidak lagi merasa "tenggelam" dalam keramaian; aku hanya sedang beroperasi di kedalaman yang tidak semua orang mampu menyelaminya.
Aku tidak lagi memandang diriku sebagai rumah dengan jendela tertutup yang haus akan pengakuan dari luar. Cahaya yang ada di dalam kepalaku. Ide-ide yang berkelok dan harapan yang luas. Bukanlah komoditas untuk dipamerkan. Aku berhenti merasa kalah oleh mereka yang berbicara paling lantang. Kebenaran tidak diukur dari desibel suara, melainkan dari berat jenis maknanya. Jika dunia lebih memilih citra daripada isi, maka itu adalah kegagalan dunia dalam memandang, bukan kegagalanku dalam tumbuh.
Ada wibawa yang sunyi saat seorang pria lebih memilih menata pikirannya dalam gelap daripada menata topeng di wajahnya. Aku tidak lagi tertarik untuk tampil sekadar agar diterima. Aku memilih untuk tumbuh dalam sunyi, karena aku tahu bahwa dari sana pulalah lahir gemuruh yang paling stabil. Kedalamanku bukan untuk dikendalikan oleh mata yang takut pada laut; kedalamanku adalah tempat di mana aku menemukan pusat gravitasi diriku sendiri.
Aku menerima kenyataan bahwa dunia ini mungkin tidak dirancang untuk orang-orang yang tenang. Namun, aku juga tahu bahwa dunia tidak akan pernah memiliki cermin yang jernih tanpa kehadiran jiwa-jiwa yang stabil. Aku tidak lagi memanggil dengan teriakan, aku hanya berdiri dengan kesabaran. Siapa pun yang datang dengan kejujuran, akan menemukanku tanpa perlu bising. Karena pada akhirnya, keheningan yang paling matang adalah keheningan yang mampu memberikan makna bagi mereka yang benar-benar mau mendengarkan.
Komentar
Posting Komentar