Aku telah membaca banyak hal: tulisan yang rapi, pikiran yang berantakan, bahkan diam yang kadang lebih jujur daripada kata-kata.
Namun ada satu bagian dari hidup yang selalu luput dariku, seolah setiap kali kudekati, maknanya mengabur seperti tinta yang belum kering: wanita.
Mereka bukan misteri, tapi juga bukan cerita yang siap dijelaskan. Mereka lebih seperti puisi yang sengaja dibiarkan terbuka, tempat jeda lebih penting daripada kata, dan perasaan lebih mendahului makna.
“Iya” bisa menjadi sebuah undangan, atau hanya kehati-hatian yang terdengar lembut.
“Tidak” pun kadang bukan penolakan, melainkan cara halus menjaga dirinya tetap utuh.
Setiap sinyal yang mereka beri tidak pernah hitam-putih; selalu ada gradasi yang luput dibaca oleh mata yang terlalu terburu-buru.
Mungkin salahku adalah mencoba memahami mereka dengan logika yang sama kupakai untuk memahami dunia.
Padahal mereka hidup dari sesuatu yang lebih halus: dari intuisi, dari rasa, dari gelombang batin yang jarang benar-benar sunyi.
Mereka adalah musim: datang dengan perubahan, pergi dengan pesan, kembali dengan versi yang tak pernah sama.
Dan aku yang hanya lelaki biasa, sering berdiri di ambang mereka sambil mencoba meraba arah angin.
Aku merasa asing di setiap bab tentang mereka, bukan karena mereka terlalu rumit, tapi karena aku terlalu ingin menemukan pola di tempat yang seharusnya hanya kurasakan.
Perlahan aku mulai mengerti: memahami mereka bukan tentang menafsirkan setiap kata, melainkan menerima bahwa beberapa halaman memang diciptakan untuk dibaca dengan hati yang pelan.
Bahwa tidak semua hal membutuhkan kesimpulan; cukup keberanian untuk tetap tinggal di satu baris yang belum tuntas, dan kesabaran untuk menunggu ketika makna memilih datang sendirinya.
Komentar
Posting Komentar