Dunia bergerak dengan ritme yang riuh, sementara aku memilih untuk tetap di sini, mengamati setiap tawa dan pencapaian yang melintas dari balik kaca. Ada sebuah kesadaran yang sunyi saat melihat orang-orang yang dulu berjalan searah kini telah menetap di titik-titik yang dulu sempat kusisipkan dalam doa. Kelelahan yang kurasakan bukan lagi tentang rasa iri, melainkan tentang pengakuan bahwa setiap perjalanan memiliki masa matangnya sendiri. Aku tidak sedang kalah cepat, aku hanya sedang berada di sebuah persimpangan yang menuntut ketabahan yang lebih dalam.
Aku berhenti bertanya mengapa langkahku terasa lebih berat atau mengapa skenario yang kupercaya seolah-olah menguap begitu saja. Hidup memang tidak pernah berhutang permintaan maaf atas ketidakpeduliannya. Ia berjalan tanpa perlu menoleh, seperti arus yang tidak peduli pada apa pun yang tertinggal di tepian. Namun, di dalam diam ini, aku menemukan sebuah kedaulatan. Aku tidak lagi menuntut hidup untuk memberiku jawaban, karena aku menyadari bahwa akulah yang harus memberikan makna pada setiap langkah yang kupilih.
Menjadi sendirian di titik ini bukanlah sebuah hukuman personal. Ini adalah ruang di mana aku belajar untuk berdiri tegak tanpa perlu sandaran dari pengakuan orang lain. Aku tidak lagi mencari telinga untuk sekadar dimengerti atau bahu untuk menampung lelah. Aku memilih untuk memproses rasa sakit ini sebagai bagian dari arsitektur jiwaku yang sedang diperkuat.
Malam ini, aku tidak sedang berusaha bertahan dari serangan hidup yang kasar. Aku hanya sedang duduk tenang, menerima realitas yang ada, dan memastikan bahwa meskipun dunia terus berlari menjauh, aku tetap memegang kendali penuh atas harga diri yang tidak akan kubiarkan luruh oleh keadaan.
Komentar
Posting Komentar