Aku melihat mereka hidup.
Bukan sekadar berjalan, tapi benar-benar hidup.
Dengan tawa yang dulu sempat kubayangkan akan kudengar dari jarak dekat,
dengan kebahagiaan yang tanpa sadar kutaruh di masa depanku sendiri.
Aku tidak iri.
Aku hanya lelah.
Ada rasa aneh ketika menyadari bahwa orang-orang yang kau kira akan berjalan bersamamu ternyata sampai lebih dulu, lalu menetap, tanpa menoleh.
Sementara aku masih berdiri di titik yang sama, menatap hidup dari luar kaca.
Lalu aku bagaimana?
Ini bukan soal kalah cepat.
Bukan soal salah memilih.
Ini soal kenyataan bahwa hidup bisa begitu kejam tanpa perlu meminta maaf.
Aku sudah berusaha.
Berharap secukupnya.
Menunggu sewajarnya.
Mencintai tanpa berisik.
Tapi hidup tetap berjalan dengan caranya sendiri, seperti seseorang yang tidak peduli apakah aku ikut tertinggal atau tidak.
Yang paling menyakitkan bukan kesendirian.
Melainkan menyadari bahwa hidup terus memberi bukti bahwa aku tidak termasuk dalam skenario bahagia yang sempat kupercaya.
Aku menuntut hidup dalam diam.
Bukan dengan teriakan.
Bukan dengan amarah.
Hanya satu pertanyaan yang terus berulang—
semakin sunyi, semakin tajam:
jika mereka bisa sampai, mengapa aku selalu tertinggal?
Aku tidak ingin dikasihani.
Aku hanya ingin dimengerti.
Bahwa lelah ini bukan karena aku lemah,
melainkan karena terlalu lama berdiri di persimpangan tanpa pernah benar-benar diajak masuk ke mana pun.
Dan malam ini, aku tidak mencari jawaban.
Aku hanya ingin mengakui satu hal dengan jujur:
hidup memang bajingan,
dan aku sedang berusaha bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar