Beberapa orang bilang aku selalu terlambat.
Terlambat memahami, terlambat melangkah, terlambat memilih.
Dan pada akhirnya, mereka pergi bersama orang lain, seolah aku memang datang setelah segalanya selesai.
Padahal ini bukan tentang aku yang datang tidak tepat waktu.
Ini tentang aku yang tidak pernah benar-benar diberi waktu.
Mereka tidak tahu bagaimana aku menahan langkah, bukan karena ragu, tapi karena ingin tiba dengan utuh.
Mereka tidak melihat bagaimana aku menunggu momen yang jujur, bukan yang tergesa.
Aku bukan diam karena tidak mau, tapi karena percaya bahwa sesuatu yang bernilai tidak seharusnya dipaksa datang lebih cepat dari kesiapannya.
Namun dunia jarang sabar pada orang yang berjalan pelan.
Di saat aku masih memastikan hatiku tidak salah arah, mereka sudah memilih berlari.
Dan ketika aku akhirnya sampai, yang tersisa hanyalah cerita bahwa aku terlambat.
Aku tidak menyesali itu.
Karena aku tahu, keterlambatanku bukan kegagalan, hanya ketidaksamaan ritme.
Aku tidak kalah oleh waktu, aku hanya tidak diberi ruang untuk tumbuh di dalamnya.
Jika hari ini aku ditinggalkan, itu bukan karena aku kurang usaha.
Itu karena tidak semua orang mau menunggu sesuatu yang tumbuh perlahan.
Dan aku lebih memilih dianggap terlambat, daripada hadir cepat tapi kehilangan diriku sendiri.
Komentar
Posting Komentar