Aku sering mendengar bisikan bahwa aku tertinggal. Terlambat memahami, terlambat melangkah, seolah-olah hidup adalah sebuah lintasan lari di mana garis finish ditentukan oleh napas orang lain. Mereka pergi, mencari kecepatan yang lebih riuh, dan meninggalkan vonis bahwa aku datang setelah segalanya selesai. Namun, aku memahami satu hal yang tidak mereka mengerti: waktu bukanlah sebuah perlombaan, melainkan sebuah ruang untuk memadatkan integritas.
Aku tidak sedang menahan langkah karena ragu, apalagi karena kalah oleh keadaan. Aku hanya menolak untuk hadir sebagai bayangan yang tergesa-gesa. Aku memilih untuk berjalan dengan ritme yang jujur, memastikan setiap pijakan kakiku memiliki berat jenis yang cukup untuk menahan badai. Bagiku, tiba dengan utuh jauh lebih berharga daripada sampai lebih dulu namun kehilangan pusat gravitasi di tengah jalan. Kecepatan sering kali hanyalah cara halus untuk menutupi ketakutan akan keheningan.
Dunia mungkin tidak memiliki kesabaran untuk mereka yang memilih jalan pelan, namun aku tidak lagi merasa perlu meminta izin pada dunia untuk menentukan kecepatanku sendiri. Jika hari ini aku tampak berdiri sendiri di persimpangan, itu bukan karena aku kehilangan arah. Itu karena aku sangat menghargai kualitas dari setiap pertemuan dan keputusan yang kuambil. Aku tidak sedang bersaing dengan jarum jam, aku sedang membangun sebuah kedalaman yang tidak bisa diukur oleh angka.
Aku menerima label "terlambat" itu dengan ketenangan seorang pengamat. Bagiku, tidak ada yang benar-benar terlambat bagi orang yang sudah selesai dengan ego untuk selalu tampak unggul di mata orang lain. Aku lebih memilih untuk hadir saat jiwaku sudah benar-benar siap, daripada berlari mengejar pengakuan namun berakhir dengan tangan yang kosong. Pada akhirnya, wibawa seseorang tidak dilihat dari seberapa cepat dia sampai, melainkan dari seberapa stabil dia tetap berdiri saat orang lain sudah mulai kehilangan napas.
Komentar
Posting Komentar