Aku sudah lama berhenti percaya bahwa daya pikat lahir dari suara yang paling keras, senyum yang paling sering dipamerkan, atau kehadiran yang paling sibuk mencari perhatian.
Yang memikat orang pada akhirnya bukanlah keramaian.
Melainkan ketenangan yang tidak goyah.
Melainkan seseorang yang tidak berusaha membuktikan dirinya, karena dirinya memang sudah berdiri.
Aku tidak datang untuk menjadi tempat orang bersandar karena iba.
Aku tidak ingin dicintai karena kasihan, atau dipilih karena kebetulan.
Kalau seseorang mendekat, biarlah karena ia merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan sepenuhnya: bahwa di dekatku, ia tidak perlu menjadi terlalu siap, terlalu rapi, atau terlalu hebat untuk tetap dihormati.
Aku percaya cinta yang dewasa tidak lahir dari rasa butuh.
Ia lahir dari kesadaran.
Dari dua manusia yang tahu arah hidupnya, tahu batasnya, tahu nilai dirinya, lalu memilih saling mendekat tanpa saling mengurung.
Aku bukan pria yang sibuk mengejar semua mata.
Aku lebih tertarik menjadi satu nama yang tidak mudah dilupakan oleh orang yang benar-benar punya kedalaman untuk merasakannya.
Sebab ada perbedaan besar antara disukai dan dipahami.
Ada perbedaan besar antara didekati dan dipilih.
Dan ada perbedaan yang bahkan lebih besar lagi antara membuat orang terkesan sesaat, dan meninggalkan jejak yang diam-diam mereka bawa pulang.
Aku tumbuh dari hal-hal yang tidak selalu terlihat mahal: kerja, disiplin, luka yang tidak diumumkan, dan kesadaran bahwa hidup tidak pernah berutang panggung pada siapa pun. Mungkin karena itu, aku tidak tergesa-gesa. Aku tidak takut diam. Aku tidak panik saat tidak semua orang mengerti aku. Pria yang seperti itu biasanya tidak lahir dari kenyamanan; ia dibentuk oleh api yang dipelihara dengan tenang.
Dan justru di situlah letak bedanya.
Aku tidak perlu memohon untuk dianggap ada.
Aku cukup hadir, dan biarkan waktu yang membuktikan siapa yang tetap tinggal setelah semua kesan pertama selesai berbicara.
Kalau suatu hari ada wanita yang satu frekuensi dengan jiwaku, ia tidak akan jatuh karena drama. Ia akan jatuh karena kejelasan. Karena ketenangan. Karena merasakan bahwa aku bukan pria yang datang untuk mengisi kekosongan siapa pun, melainkan pria yang tahu bagaimana mencintai tanpa kehilangan bentuk dirinya sendiri.
Dan pria seperti itu, pada akhirnya, tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Ia hanya perlu berdiri, tenang, dan tetap nyata.
Itu sudah cukup untuk membuat yang tepat merasa pulang.
Komentar
Posting Komentar