Apakah seseorang benar-benar tidak bisa hidup sendiri?
Pertanyaan itu muncul begitu saja ketika hari-hari terasa terlalu panjang untuk manusia introvert sepertiku.
Aku selalu diberitahu bahwa orang seperti aku hanya perlu waktu sendiri untuk memulihkan tenaga.
Tapi jika begitu, lalu aku ini apa?
Energi ku habis di luar, di antara orang-orang, percakapan, dan kewajiban yang tidak bisa dihindari.
Namun anehnya, ketika akhirnya aku berbaring di sudut kamar yang sunyi, sisa energiku justru seperti diperas sampai habis.
Seolah-olah bahkan kesendirian pun tidak lagi tahu bagaimana cara mengistirahatkanku.
Kadang aku mulai berpikir bahwa konsep recharge energi itu mungkin hanya cerita yang terlalu disederhanakan.
Seolah manusia hanyalah baterai yang tinggal diisi ulang.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Meski aku jarang bercerita, sebenarnya ada terlalu banyak hal yang perlu diceritakan.
Begitu banyak kalimat yang tidak pernah keluar dari kepala.
Aku tidak kesulitan menemukan kata.
Justru sebaliknya.
Aku kehabisan tempat untuk menyembunyikan ribuan kata yang harus kupendam.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah manusia memang dilahirkan seperti ini? lemah, tidak jelas, dan tidak sepenuhnya mengerti dirinya sendiri.
Lalu apa yang harus dilakukan manusia ketika kebosanan mulai datang?
Bukan kebosanan yang ringan.
Bukan sekadar resah atau gelisah.
Melainkan kebosanan yang perlahan berubah menjadi kebingungan.
Kebingungan yang terus berdiri di depan kita, meminta penjelasan.
Sementara kita sendiri tidak pernah benar-benar tahu jawabannya.
Komentar
Posting Komentar