Aku tidak lagi bertanya apakah manusia bisa benar-benar hidup sendiri. Pertanyaan itu sudah terjawab oleh setiap malam yang kuhabiskan di bawah kepungan sunyi, di mana kesendirian justru terasa lebih menuntut daripada hiruk-pikuk dunia di luar sana. Orang-orang sering bicara tentang memulihkan energi dalam sepi, seolah-olah jiwa manusia hanyalah sebuah mesin yang bisa diisi ulang dengan mudah. Namun aku memahami bahwa kesendirian terkadang bukan sebuah peristirahatan, melainkan sebuah ruang di mana sisa energiku justru diperas oleh kejujuran yang tidak bisa kuhindari.
Mungkin konsep pengisian ulang itu memang terlalu disederhanakan. Bagiku, menyepi bukan tentang menemukan ketenangan, melainkan tentang bagaimana aku mengelola kepadatan di dalam kepala. Aku tidak pernah kesulitan menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Sebaliknya, aku adalah bejana yang hampir meluap oleh ribuan kalimat yang kupilih untuk tetap diam di dalam sana. Menyimpan pikiran-pikiran itu bukanlah sebuah tindakan pengecut, melainkan sebuah bentuk kendali atas apa yang layak untuk dibagi dan apa yang cukup untuk kusimpan sebagai rahasia pribadi.
Aku tidak lagi memandang kebingungan ini sebagai tanda dari sebuah kelemahan. Kebosanan yang datang mengetuk pintu jiwaku bukanlah sesuatu yang dangkal. Ia adalah sebuah entitas yang hadir untuk meminta pertanggungjawaban atas waktu dan eksistensi. Aku tidak lagi merasa perlu untuk memberikan jawaban yang pasti atau penjelasan yang rapi.
Aku hanya sedang belajar untuk duduk berdampingan dengan ketidakpastian itu. Aku membiarkan kebingungan itu berdiri di hadapanku, mengamati setiap jengkalnya dengan tenang, tanpa perlu merasa terancam oleh ketidaktahuan. Karena pada akhirnya, seseorang tidak diukur dari seberapa banyak jawaban yang ia miliki, melainkan dari seberapa stabil ia berdiri di tengah badai pertanyaan yang tidak pernah usai.
Komentar
Posting Komentar