Ada titik dalam hidup ketika kita akhirnya berhenti bertanya apakah kita masih bisa meyakinkan seseorang. Bukan karena jawabannya sulit, tetapi karena kita sudah tahu jawabannya sejak awal. Seseorang hidup dari keyakinannya sendiri, dan keyakinan bukan sesuatu yang bisa dipindahkan dengan argumentasi atau perasaan sekuat apa pun.
Di titik itu, upaya meyakinkan tidak lagi terdengar seperti cinta, melainkan seperti paksaan yang dibungkus kepedulian. Kita bisa terus berbicara, terus menjelaskan, terus berharap ada celah kecil yang bisa dimasuki. Tapi semakin lama kita melakukannya, semakin jelas bahwa yang kita pertahankan bukan lagi hubungan, melainkan ego kita sendiri yang tidak siap dilepaskan.
Menghormati pilihan seseorang sering disalahpahami sebagai menyerah. Padahal ia adalah bentuk keberanian yang berbeda. Keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal yang kita rasakan harus menjadi alasan orang lain mengubah hidupnya. Keberanian untuk tidak memaksa seseorang tinggal di tempat yang bukan lagi miliknya.
Ada kesedihan yang sunyi di sana. Kesedihan yang tidak dramatis, tidak berisik, dan tidak bisa dijelaskan dengan mudah. Karena kita tidak kehilangan orang yang tidak mencintai kita, kita kehilangan kemungkinan bahwa cinta itu bisa berjalan searah. Dan kehilangan semacam ini tidak menuntut air mata, hanya penerimaan yang perlahan mengikis harapan.
Di situlah kita belajar bahwa cinta tidak selalu tentang berjuang sampai akhir. Kadang cinta adalah tahu kapan berhenti berbicara dan mulai mendengarkan kenyataan. Bahwa tidak semua perasaan harus diperjuangkan agar bernilai. Sebagian justru bernilai karena kita tidak menggunakannya untuk melukai siapa pun.
Menghormati pilihan seseorang berarti mengizinkan mereka tetap utuh, meski itu berarti kita yang harus pergi. Dan mungkin itulah bentuk cinta yang paling jarang dipilih. Tidak menang, tidak memiliki, tetapi tidak meninggalkan kerusakan.
Pada akhirnya, kita tidak selalu diingat karena seberapa keras kita berjuang, tetapi karena seberapa elegan kita melepaskan. Dan bagi sebagian orang, itu sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar