Aku selalu tahu dengan siapa aku ingin hidup.
Bukan sekadar bayangan kabur, tapi gambaran yang utuh.
Bagaimana pagi dijalani, bagaimana diam dibagi, bagaimana lelah diletakkan di tempat yang aman. Semua itu ada, rapi, lengkap, bahkan sebelum hidup menanyakan apa pun padaku.
Namun setiap kali aku hendak memulainya, gambaran itu memudar.
Bukan karena aku ragu.
Bukan karena aku takut.
Melainkan karena hidup seolah selalu tiba lebih dulu dan berkata bahwa gambar ini tidak perlu diwujudkan.
Aku tidak pernah sampai pada fase memperjuangkan.
Tidak pernah berada di persimpangan antara bertahan atau pergi.
Segalanya selesai sebelum benar-benar dimulai, seolah takdir hanya mengizinkanku untuk memahami, bukan memiliki.
Yang tersisa bukan kemarahan, juga bukan penyesalan.
Hanya keheningan yang terlalu akrab.
Keheningan dari rencana yang matang, tapi tidak pernah diberi waktu untuk menjadi nyata.
Aku tidak merasa kalah.
Karena aku tidak pernah bertanding.
Aku juga tidak merasa gagal.
Karena aku tidak pernah diberi kesempatan untuk salah.
Dan mungkin itulah bentuk kehilangan yang paling halus.
Kehilangan yang tidak meninggalkan luka terbuka, tidak mengundang simpati, tidak menuntut penjelasan.
Ia hanya hadir sebagai ruang kosong di dalam diri, tempat sesuatu seharusnya tumbuh, tetapi tidak pernah diberi musim.
Aku tetap berjalan.
Tetap hidup.
Tetap menata hari seperti biasa.
Namun di dalam diriku, selalu ada satu kanvas yang bersih.
Bukan karena belum kupakai,
melainkan karena setiap kali aku hendak menyentuhnya, hidup memilih untuk menyingkirkannya perlahan.
Dan aku belajar menerimanya tanpa suara.
Karena tidak semua hal yang tidak terjadi adalah kesalahan.
Sebagian memang hanya tidak diberi giliran.
Komentar
Posting Komentar