Aku memiliki arsitektur yang sangat presisi tentang bagaimana hidup seharusnya dijalani. Bukan sekadar bayangan yang kabur, melainkan sebuah rencana utuh tentang bagaimana pagi dimulai, bagaimana keheningan dibagi, dan di mana kelelahan seharusnya diletakkan agar tetap aman. Semua itu tersusun rapi di dalam kepalaku, sebuah cetak biru yang lengkap bahkan sebelum dunia sempat mengajukan pertanyaannya.
Sering kali, sebelum garis pertama sempat kusentuhkan pada realitas, keadaan sudah lebih dulu menentukan arah yang berbeda. Namun, aku tidak lagi melihatnya sebagai sebuah penolakan atau kegagalan yang personal. Aku memahami bahwa ada jarak yang lebar antara apa yang kita susun dengan apa yang semesta izinkan untuk terjadi. Kehilangan yang kurasakan bukanlah luka yang menganga, melainkan sebuah ruang kosong yang elegan. Aku tidak merasa kalah karena aku tidak sedang berada dalam perlombaan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Ada kekuatan yang sunyi saat kita mampu memegang sebuah rencana besar tanpa harus menuntutnya menjadi nyata. Aku tidak lagi merasa perlu untuk mengasihani diriku sendiri atas musim-musim yang tidak pernah datang. Jika kanvas itu tetap bersih, itu bukan karena aku kehilangan kemampuan untuk melukis, melainkan karena aku sangat menghargai kemurnian dari visi yang kusimpan.
Aku tetap melangkah dan menata hari dengan ritme yang stabil. Di dalam diriku, selalu ada ruang untuk segala kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Aku belajar untuk menatap ruang kosong itu dengan dagu yang tetap terangkat, menyadari bahwa tidak semua keindahan harus dipamerkan di hadapan dunia untuk dianggap berharga. Sebagian darinya memang hanya diciptakan untuk tetap tinggal di dalam kepala, sebagai bagian dari rahasia yang menguatkan jiwaku sendiri.
Komentar
Posting Komentar