Aku telah berhenti bertanya apakah dunia akan menyediakan panggung untuk merayakan kehadiranku. Dulu, aku mungkin merindukan riuh tepuk tangan atau pengakuan yang datang dari luar, seolah-olah arti hidupku ditentukan oleh seberapa sering namaku dipanggil. Namun kini, aku menyadari bahwa keberadaan yang paling kokoh adalah keberadaan yang tidak membutuhkan saksi untuk merasa nyata. Aku tidak lagi merasa menjadi kerikil yang diinjak oleh langkah-langkah yang acuh, karena aku adalah pondasi yang menopang duniaku sendiri dengan penuh kesadaran.
Ada jenis kesunyian yang sering disalahartikan sebagai pengabaian. Orang-orang yang terbiasa hidup tanpa seremoni sering kali dianggap sebagai mereka yang kalah, padahal di dalam diam itu, sedang dibangun sebuah kepadatan jiwa yang tidak mudah digoyahkan oleh absennya validasi. Aku tidak lagi mencari jawaban atas pertanyaan mengapa aku berbeda dari mereka yang dicintai dengan riuh. Aku memahami bahwa cinta yang paling dewasa adalah cinta yang aku berikan kepada diriku sendiri saat tidak ada satu pun mata yang menoleh. Tanggal lahir mungkin hanya angka di kalender, namun setiap napas yang kuambil adalah sebuah kemenangan yang kurayakan sendiri di ruang batin yang paling privat.
Aku tidak lagi menuntut untuk diingat oleh dunia yang memang tidak pandai merawat kehadiran yang sunyi. Menjadi tidak terlihat bagi mata yang dangkal adalah sebuah previlese, karena di sana aku bebas dari tuntutan untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Aku tidak marah, tidak memohon, dan tidak lagi bertanya tentang surga atau neraka yang dijanjikan oleh persepsi orang lain. Aku adalah subjek yang mengesahkan maknanya sendiri.
Jika kelak waktu berjalan dan namaku perlahan menguap dari ingatan manusia, itu bukanlah sebuah tragedi. Tragis yang sesungguhnya adalah ketika seseorang hidup hanya untuk menunggu dirayakan oleh mereka yang bahkan tidak memahami harga dari kesunyiannya. Aku memilih untuk tetap berdiri tegak, menjadi saksi atas setiap luka dan keberhasilan yang tidak pernah kupamerkan. Karena pada akhirnya, perayaan yang paling jujur bukanlah yang disaksikan oleh banyak orang, melainkan yang terjadi saat kita mampu menatap cermin dan berkata bahwa hidup ini cukup, tanpa perlu tambahan suara dari luar.
Komentar
Posting Komentar