Langsung ke konten utama

Apakah Kamu Dirayakan?

Pernahkah kamu benar-benar dirayakan?

Bukan sekadar hadir, tapi keberadaanmu disadari. Keberhasilanmu diakui. Hidupmu dianggap berarti oleh orang lain.

Lalu bagaimana dengan mereka yang terlalu akrab dengan kegagalan, kesepian, dan penderitaan?

Apakah orang-orang seperti itu harus merayakan kepahitan dengan suka cita, seolah luka adalah prestasi yang pantas dipamerkan?

Percaya atau tidak, orang-orang yang dilupakan sering kali sudah lama melupakan dirinya sendiri.

Bukan karena mereka ingin, melainkan karena terlalu sering hidup berjalan tanpa ada yang benar-benar menoleh. Mereka terbiasa tidak dipanggil, tidak dicari, tidak ditunggu. Pada akhirnya, mereka belajar untuk tidak berharap.

Orang-orang seperti ini tampak kebas.

Namun kebas bukan berarti mati rasa. Justru sebaliknya. Mereka rapuh di setiap celah. Sedikit perhatian bisa terasa berlebihan. Sedikit penolakan bisa terasa menghancurkan. Mereka tidak keras karena kuat, tetapi karena terlalu sering dipaksa bertahan tanpa pegangan.

Kamu bisa menjatuhkan manusia yang sekeras batu jika kamu tahu alasan mengapa ia membatu.

Dan sering kali, alasannya sederhana dan menyakitkan: terlalu lama tidak dianggap berarti.

Kamu kira setiap manusia pernah mendapatkan ucapan sesederhana “selamat ulang tahun” atau “aku bersyukur kamu hidup”?

Sebagian orang tidak pernah mendapatkannya. Bagi mereka, hari lahir hanyalah tanggal. Bulan dan tahun berganti tanpa penanda. Setiap hari sama saja. Hidup berjalan tanpa seremoni, tanpa saksi, tanpa perayaan kecil yang menegaskan bahwa keberadaannya pernah dihitung.

Lalu muncul luka yang lebih sunyi.

Apa kamu pikir semua orang berarti bagi orang lain?

Ada manusia di dunia ini yang mungkin sama tidak berartinya dengan kerikil yang kamu injak setiap hari. Mereka tidak menuntut diingat. Tidak marah. Tidak memohon. Mereka hanya bertanya, dalam diam yang panjang: apa bedanya aku dengan mereka yang dicintai? Apa bedanya surga dan neraka, jika aku tidak pernah benar-benar merasakan keduanya?

Pertanyaan itu tidak mencari jawaban.

Ia hanya ingin diakui pernah ada.

Dan mungkin, pada akhirnya, inilah yang menyamakan semua manusia.

Kita akan dikenang satu atau dua hari setelah kematian kita. Nama disebut pelan, mungkin dengan air mata. Lalu waktu berjalan. Dunia sibuk kembali. Kita dilupakan, persis seperti sebagian dari kita dilupakan saat masih hidup.

Bukan karena kita tidak layak diingat,

melainkan karena dunia memang tidak pandai merawat kehadiran yang sunyi.


Tip Jar: TrakteerBuy Me a Coffee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Tidak Sempurna

Pertama-tama, aku meminta maaf kepada diriku sendiri. Hari ini, aku memilih jujur, bukan kepada dunia, tapi kepada diriku. Menjadi manusia yang penuh ketakutan bukan pilihanku. Namun aku hidup dengan rasa haus akan validasi. Aku kerap mengambil keputusan hanya agar terlihat baik di mata orang lain, bahkan di mataku sendiri. Ironisnya, dari sudut mana pun, aku selalu merasa tidak cukup. Hari-hariku dihabiskan untuk menilai, mengkritik, lalu menghukum diri sendiri. Blog ini menjadi saksi bisu. Entah berapa ribu kata yang telah kuhapus. Polanya sederhana, menekan tombol "reset". Alasannya pun sama, aku merasa tidak cukup baik. Aku menjadi hakim bagi diriku sendiri, dan hukumannya selalu sama, menghapus jejak lalu memulai lagi. Ketakutan itu melahirkan perfeksionisme yang menyesakkan. Aku mengenali gejalanya, merasakannya, dan akhirnya memahami bahwa ini kebiasaan buruk yang harus dihentikan. Tidak semua hal harus sempurna. Kekurangan tidak membunuh. Celah kecil dalam hidup bukan...

Alasan Jatuh Cinta

Apa alasan seseorang jatuh cinta? Jawabannya banyak, namun tetap terasa rumit. Bagiku, menjelaskan bagaimana aku jatuh cinta sama saja dengan membongkar kebodohan yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Aku tidak pernah mencintai karena logika. Aku hanya jatuh begitu saja. Seolah tidak pernah belajar dari luka yang datang sebelumnya. Kadang aku berpikir, bahkan kata “bodoh” pun terlalu baik untuk mendeskripsikanku. Setiap kali jatuh, yang kutemukan bukan jawaban. Hanya kekosongan, kebingungan, pembenaran yang dipaksakan, dan harapan yang terlalu besar untuk seseorang yang bahkan belum tahu siapa aku. Aku bukan orang yang sulit jatuh cinta. Namun aku juga bukan orang yang mudah mencintai. Perasaanku sudah lama berantakan, mungkin itu sebabnya semuanya terasa acak, tak terstruktur, dan sering kali sia-sia. Jujur saja, aku merasa tidak pernah ada yang benar-benar mencintaiku. Tidak ada yang dengan sukarela terjun ke kebodohan yang sama. Terjebak, lalu memilih tetap tinggal bersamaku di dala...

Aku Tidak Bisa Hidup Dengan Hanya Melakukan Hal Yang Aku Sukai

Aku tidak bisa hidup hanya dengan melakukan hal yang aku sukai. Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya ada letih yang tidak pernah berteriak. Ada penerimaan yang tumbuh pelan, seperti luka yang perlahan berubah menjadi kulit baru. Ada masa ketika aku percaya hidup adalah soal mengejar kebahagiaan pribadi. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, bagian dari diri yang dulu kujaga rapat ikut larut dalam harapan mereka. Aneh memang. Manusia sering meninggalkan apa yang ia sukai demi orang-orang yang ia cintai. Kita bekerja, menelan bosan, bangun sebelum matahari. Berlari di antara waktu dan lelah. Bukan semata untuk diri sendiri, tetapi agar seseorang di rumah bisa tertawa tanpa beban. Dan entah bagaimana, kita menyebut itu cinta. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah manusia memang diciptakan untuk seperti ini? Untuk menekan keinginan, mengorbankan sebagian diri, dan menyebutnya kebajikan? Mungkin memang ...

Yang Tenang Tidak Laku Di Dunia Yang Bising

Ada masa dalam hidup ketika aku percaya bahwa kebaikan akan membawa seseorang pada cinta, atau setidaknya pada penerimaan. Ternyata, aku salah. Dunia tidak berputar untuk orang baik. Dunia berputar untuk mereka yang pandai memainkan peran. Mereka yang tahu kapan harus tersenyum, kapan pergi tanpa rasa bersalah, dan kapan berpura-pura peduli lalu menghilang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Aku melihatnya sendiri. Yang menipu dipeluk. Yang kasar dirindukan. Yang bersandiwara justru dijaga. Sementara yang tulus perlahan menghilang di tengah tawa orang lain. Bukan dibenci, hanya tidak dianggap. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian. Karena kebencian setidaknya mengakui keberadaanmu. Diabaikan membuatmu seolah tidak pernah ada. Orang baik terlalu mudah dimaklumi, terlalu cepat memaafkan, terlalu mengerti. Akhirnya, tidak ada yang benar-benar merasa perlu menjaga mereka. Dunia tahu orang baik tidak akan membalas. Tidak akan membiarkan bara menjadi api. Mereka sibuk memadamkan, ...

Papan Bunga, Juru Bicara Kelas Sosial

Setiap pagi, di depan gedung tempatku bekerja, sering kali papan bunga baru berdiri tegak. Warnanya mencolok, hurufnya besar, dan setiap pita seolah berteriak: “Lihat, aku bagian dari perayaan ini.” Awalnya, aku hanya melihatnya sebagai hiasan. Lambang ucapan selamat atau duka. Namun semakin lama, aku sadar papan bunga bukan sekadar papan bunga. Di dalamnya ada simbolisme yang lebih dari sekadar bunga dan pita. Ia adalah pengukuran kelas yang aneh, tapi nyata. Semakin besar, semakin ramai, semakin panjang deretnya di lobi, semakin tinggi pula posisi yang dirayakan. Lucunya, papan bunga membawa pesan sekaligus perbandingan diam-diam. Siapa yang mampu mengirim. Siapa yang cukup penting untuk menerima. Bahkan dalam kematian pun, hierarki itu tetap berjalan. Ia hanya berganti wujud, warna, ukuran, dan kalimat. Aku sering berhenti di depan deretan papan itu. Membaca nama pengirim—perusahaan, pejabat, atau mungkin hanya seseorang yang ingin terlihat. Di antara bunga yang tertata rapi, aku me...

Gelombang Yang Tak Terlihat Di Permukaan

Ada orang-orang yang tidak akan pernah kau temui di permukaan. Bukan karena mereka bersembunyi, tapi karena kedalaman mereka tidak bisa berdiri di tempat yang dangkal. Mereka bukan sosok yang riuh, bukan suara paling keras di ruangan, bukan ombak yang memecah batu di tepi pantai. Mereka lebih mirip samudra yang dalam: tenang di atas, penuh dunia di bawahnya. Orang seperti ini jarang menimbulkan gelora. Yang terlihat hanya riak kecil hampir tak berarti bagi mata yang terbiasa mencari gemuruh. Padahal riak itu tercipta dari gelombang yang tak terhitung jauhnya di kedalaman. Dan kedalaman selalu menjadi tempat yang sunyi. Kau tidak bisa mengenal mereka dengan berdiri di tepi. Kau harus menyelam, masuk perlahan, melewati lapisan-lapisan yang tidak disiapkan untuk orang yang terburu-buru. Sebab nilai paling tinggi tidak pernah memanggil perhatian; nilai itu hanya bisa ditemukan oleh mereka yang rela menurunkan diri, meninggalkan permukaan yang bising, dan menatap gelap yang tenang tanpa tak...

Halaman Paling Rumit Dari Buku Sederhana

Aku telah membaca banyak hal: tulisan yang rapi, pikiran yang berantakan, bahkan diam yang kadang lebih jujur daripada kata-kata. Namun ada satu bagian dari hidup yang selalu luput dariku, seolah setiap kali kudekati, maknanya mengabur seperti tinta yang belum kering: wanita. Mereka bukan misteri, tapi juga bukan cerita yang siap dijelaskan. Mereka lebih seperti puisi yang sengaja dibiarkan terbuka, tempat jeda lebih penting daripada kata, dan perasaan lebih mendahului makna. “Iya” bisa menjadi sebuah undangan, atau hanya kehati-hatian yang terdengar lembut. “Tidak” pun kadang bukan penolakan, melainkan cara halus menjaga dirinya tetap utuh. Setiap sinyal yang mereka beri tidak pernah hitam-putih; selalu ada gradasi yang luput dibaca oleh mata yang terlalu terburu-buru. Mungkin salahku adalah mencoba memahami mereka dengan logika yang sama kupakai untuk memahami dunia. Padahal mereka hidup dari sesuatu yang lebih halus: dari intuisi, dari rasa, dari gelombang batin yang jarang benar-be...