Aku memiliki kemampuan untuk membaca keletihan di mata orang lain, sebuah sensor yang terasah karena aku sendiri akrab dengan langkah-langkah yang berat. Namun, memahami luka seseorang tidak lantas membuatku merasa harus segera mendekat dan mencampuradukkan segala kekacauan. Aku menyadari bahwa ada garis tipis antara empati dan kecerobohan emosional.
Banyak yang terjebak dalam romantisisme bahwa dua orang yang hancur akan otomatis menjadi utuh saat bersatu. Bagiku, itu adalah asumsi yang berisiko. Tanpa stabilitas internal, dua jiwa yang sedang goyah sering kali hanya akan saling menenggelamkan lebih dalam ketika badai datang. Aku memilih untuk diam bukan karena aku tidak percaya pada kekuatan berbagi, melainkan karena aku sangat menghormati ketenangan yang sedang diusahakan oleh orang lain.
Tidak semua beban layak untuk dipamerkan. Ada jenis kesunyian yang lahir dari rasa peduli yang mendalam. Sebuah kesadaran untuk tidak menjadikan kesulitan pribadiku sebagai polusi bagi ruang hidup orang lain. Aku menolak menjadi variabel tambahan yang memperberat perjuangan mereka yang juga sedang bertaruh dengan nasibnya sendiri.
Sebelum aku memutuskan untuk membuka pintu dan membiarkan seseorang melihat apa yang kupikul, aku harus memastikan bahwa aku tidak sedang melemparkan tanggung jawab atas kebahagiaanku ke pundak mereka. Aku tidak ingin ditemani sebagai seorang korban yang mencari penyelamat. Aku ingin hadir sebagai pria yang sudah selesai dengan urusannya sendiri, sehingga ketika kami berdiri berdampingan, itu adalah sebuah persekutuan kekuatan, bukan sebuah pertukaran kelemahan.
Komentar
Posting Komentar