Aku sebenarnya mudah tergerak.
Aku tahu betul rasanya berjalan dengan langkah yang berat. Karena itu, ketika melihat orang lain memikul sesuatu yang serupa, aku bisa mengenalinya bahkan sebelum mereka bercerita. Sorot mata tidak pernah benar-benar pandai menyembunyikan lelah.
Tapi memahami bukan berarti berani mendekat.
Ada ketakutan yang jarang diakui: takut jika dua beban yang bertemu tidak saling meringankan, melainkan saling menambah berat. Takut jika kesulitan yang kubawa justru menjadi beban baru bagi orang lain. Takut jika berbagi bukan menyembuhkan, tetapi memperdalam luka.
Tidak semua kesengsaraan perlu dibagi.
Kadang seseorang memilih diam bukan karena tidak percaya, melainkan karena terlalu peduli. Ia tahu betul bagaimana rasanya tenggelam. Maka ia enggan menarik orang lain ikut masuk ke dalamnya.
Ada keyakinan yang sering terdengar indah: bahwa dua orang yang sama-sama terluka bisa saling menguatkan. Mungkin benar. Tapi tidak selalu. Dua orang yang sama-sama rapuh juga bisa saling menggoyahkan.
Bagaimana manusia saling menghibur dengan air mata masing-masing, jika keduanya belum selesai dengan tangisnya sendiri?
Mungkin yang dibutuhkan bukan sama-sama membawa beban, tetapi seseorang yang cukup lapang untuk menampung. Dan mungkin, sebelum aku meminta seseorang memikul sebagian dari hidupku, aku harus memastikan aku tidak sedang melemparkan seluruh beratnya.
Bukan karena aku tidak ingin ditemani.
Aku hanya takut menjadi tambahan beban bagi orang yang juga sedang berjuang.
Komentar
Posting Komentar