Pagi ini, sebuah obrolan singkat tanpa permisi mengusik sisa ketenangan yang susah payah kubangun. Tiba-tiba saja, aku ditampar oleh kenyataan bahwa waktu sudah berlari terlalu jauh.
Dulu, aku punya semacam cetak biru. Titik-titik pencapaian yang dengan angkuhnya kuyakini akan singgah tepat pada waktunya. Nyatanya? Mereka hanya lewat. Menumpang lewat lalu menguap begitu saja, seolah menertawakan angan-angan itu. Aku mematung, baru menyadari bahwa satu bulan lagi, usiaku menginjak 27 tahun. Aku akan menjadi pria 27 tahun yang berdiri canggung di tengah masa depan yang sama sekali tidak mirip dengan skenario si remaja naif di masa lalu.
Kepalaku riuh bertanya, apa yang harus disiapkan? Apakah aku memang harus bersiap? Ironisnya, semakin keras aku berpikir, semakin aku sadar bahwa 'kesiapan' itu hanyalah omong kosong. Ia tidak pernah benar-benar datang.
Di balik wajah yang menua ini, aku masihlah bocah yang sama. Bocah rapuh yang terlalu mudah goyah oleh angin keraguan. Bedanya, bocah itu kini belajar untuk menelan suaranya. Aku lebih sedikit berbicara, bukan karena aku sudah paham segalanya, tapi karena aku lelah menjelaskan isi kepalaku kepada dunia.
Memang belum banyak hal besar yang kugenggam, tapi rasanya sudah terlalu banyak jalan yang kulewati dengan napas tersengal. Entah ini bisa disebut prestasi atau sekadar sisa-sisa pertahanan diri dari orang yang menolak kalah. Ada desir kebanggaan kecil yang menyelinap, tapi seketika ditelan oleh kesedihan yang pekat. Aku bangga, sekaligus bersedih.
Dan bagian paling menyiksanya adalah, aku bahkan tidak tahu dari mana kedua perasaan itu berasal. Aku hanya membiarkannya ada. Mengendap di sudut kepala yang sudah terlalu penuh ini.
Komentar
Posting Komentar