Ada satu titik dalam hidup ketika meyakinkan seseorang tidak lagi lahir dari kepedulian, melainkan dari ketidakmampuan kita menerima kenyataan. Bukan karena kita kurang argumen, bukan pula karena kita kehabisan kata, tetapi karena orang di hadapan kita sudah hidup dari keyakinannya sendiri.
Pada titik itu, keyakinan bukan lagi ruang diskusi. Ia telah menjadi rumah. Dan rumah tidak dibangun untuk dibantah, melainkan untuk ditempati.
Kita sering keliru mengira bahwa terus meyakinkan adalah bentuk cinta. Padahal, ketika seseorang sudah berdiri di atas pilihannya dengan sadar, setiap usaha untuk mengubahnya hanya akan terasa seperti penyangkalan terhadap siapa dirinya. Kita tidak sedang menyelamatkan, kita sedang mengganggu keseimbangannya.
Menghormati pilihan bukan berarti setuju. Menghormati juga bukan berarti menyerah. Ia adalah pengakuan paling dewasa bahwa setiap manusia berhak hidup dengan keyakinannya, meski keyakinan itu tidak membawa kita ke tempat yang sama.
Ada saatnya kita berhenti berbicara bukan karena kalah, tetapi karena paham. Bahwa memaksa seseorang meninggalkan apa yang ia yakini sama saja dengan memintanya kehilangan dirinya sendiri.
Dan di situlah batasnya.
Kita berhenti meyakinkan bukan karena tidak peduli, tetapi karena peduli cukup dalam untuk tidak merusak.
Komentar
Posting Komentar