Ada sebuah fase di mana ketenangan bukan lagi sebuah pencapaian, melainkan sebuah ruang hampa yang terlalu nyaman. Aku menyadari bahwa perasaan di dalam diriku tidak lagi bergelora, namun ia juga tidak sepenuhnya padam. Segala kejadian melintas begitu saja, disapa oleh logika, lalu dilepaskan tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Aku telah menjadi arsitek yang terlalu ahli dalam membangun bendungan, hingga aku lupa bagaimana rasanya membiarkan arus mengalir tanpa hambatan.
Aku mendapati diriku sangat terlatih dalam memproses setiap hantaman. Ketika sebuah keinginan tidak terpenuhi, kesedihan itu datang hanya untuk segera dijemput oleh pemahaman yang dingin. Begitu pula dengan kebahagiaan, ia hadir seperti tamu yang tahu diri, singgah sebentar lalu pergi sebelum sempat kurasakan kehangatannya. Aku tidak lagi terjatuh terlalu dalam ke arah mana pun, bukan karena aku telah melampaui hidup, tapi karena aku sudah terlalu hafal di mana letak lantai dasarnya.
Ini mungkin yang sering disebut oleh dunia sebagai kedewasaan, namun bagiku, ini adalah bentuk peringatan. Aku menyadari bahwa memahami segalanya sering kali menjadi cara halus untuk tidak lagi benar-benar merasakan apa pun. Kedewasaan seharusnya tidak membuatku kehilangan hak untuk terluka secara jujur. Aku tidak lagi tertarik pada kecepatan untuk pulih atau kemandirian untuk selalu baik-baik saja. Pemahaman yang instan terkadang hanyalah topeng dari kelelahan yang telah disusun dengan terlalu rapi.
Aku memilih untuk berhenti sejenak dari segala bentuk rasionalisasi yang mekanis. Menjadi manusia dengan wibawa yang sunyi bukan berarti harus menjadi beku. Kekuatan yang sesungguhnya tidak ditemukan dalam seberapa cepat aku bisa berdamai dengan keadaan, melainkan dalam keberanianku untuk membiarkan sesuatu menyentuh jiwaku lebih lama. Aku mengizinkan diriku untuk kembali merasakan intensitas itu, meskipun ia membawa sakit, meskipun ia membawa kekacauan. Karena pada akhirnya, kedaulatan atas diri sendiri adalah tentang tahu kapan harus menutup pintu, dan kapan harus membiarkan angin masuk hingga ke relung yang paling dalam.
Komentar
Posting Komentar