Ada fase dalam hidup ketika perasaan tidak lagi bergelora, tapi juga tidak mati. Hidup terasa datar, bukan karena tidak ada kejadian, melainkan karena semuanya terasa lewat begitu saja. Aku tidak benar-benar punya kesenangan, tapi juga tidak menyimpan kebencian. Segalanya hadir sebentar, lalu pergi tanpa bekas yang cukup kuat untuk ditinggalkan.
Ketika keinginanku tidak terpenuhi, aku sedih. Tapi kesedihan itu cepat selesai, seolah aku sudah hafal jalurnya. Ketika kebutuhanku terpenuhi, aku bahagia. Namun kebahagiaan itu pun tidak menetap. Ia datang, memberi isyarat singkat, lalu berlalu seperti tamu yang tidak ingin mengganggu. Aku tidak lagi larut. Aku tidak lagi terjatuh terlalu dalam, baik ke arah senang maupun ke arah kecewa.
Aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku menjadi sangat terlatih secara emosional. Terlatih menerima, terlatih memahami, terlatih merasionalisasi. Tidak ada ledakan, tidak ada penolakan, tidak ada perlawanan berarti. Semua terasa bisa dijelaskan, bisa diterima, bisa dilewati. Dan justru di situlah keganjilannya bermula.
Aku mulai bertanya, apakah ini yang disebut kecerdasan emosional. Atau jangan-jangan, ini hanya cara yang lebih halus untuk tidak lagi benar-benar merasakan. Apakah menjadi dewasa berarti memperkecil ruang bagi emosi untuk tinggal lebih lama. Apakah memahami segalanya membuat kita kehilangan hak untuk terluka dengan jujur.
Karena ada kalanya aku rindu pada diriku yang dulu. Yang kecewanya terasa penuh, yang bahagianya bisa membuat lupa waktu, yang tidak cepat selesai dengan perasaannya sendiri. Sekarang aku terlalu cepat pulih. Terlalu cepat berdamai. Terlalu cepat mengerti. Dan di balik semua kemampuan itu, ada satu hal yang terasa semakin jauh: kehadiran emosi itu sendiri.
Aku tidak hancur. Aku tidak tersesat. Tapi aku juga tidak sepenuhnya hidup. Aku berada di ruang antara, tempat perasaan tidak lagi berisik, tapi juga tidak lagi bicara. Dan di ruang itu, aku mempertanyakan satu hal yang sederhana tapi mengganggu: apakah manusia bisa menjadi terlalu cerdas secara emosional sampai akhirnya kehilangan sisi manusianya sendiri.
Mungkin ini bukan kedewasaan. Mungkin ini kelelahan yang sudah terlalu lama disusun rapi. Dan mungkin, yang sebenarnya kubutuhkan bukan jawaban, melainkan keberanian untuk kembali membiarkan sesuatu menyentuhku lebih lama, meski itu berarti sakit, meski itu berarti tidak langsung baik-baik saja.
Karena barangkali, menjadi manusia bukan tentang seberapa cepat kita menerima, tetapi seberapa jujur kita mengizinkan diri kita merasakan sebelum semuanya kita tutup dengan kata “aku sudah paham”.
Komentar
Posting Komentar