Sebenarnya aku bukan orang yang mudah menyerah. Aku hanya seseorang yang tahu kapan harus berhenti. Ada perbedaan besar di antara keduanya, meski sering disamakan oleh mereka yang tidak pernah benar-benar berjalan jauh.
Aku berhenti bukan karena aku pandai berhitung untung dan rugi. Bukan pula karena aku kekurangan keberanian. Justru sebaliknya, berhenti sering kali datang setelah keberanian itu digunakan habis-habisan. Setelah usaha dicoba dengan jujur. Setelah harapan diberi ruang untuk tumbuh, meski perlahan dan sering kali sendirian.
Orang yang belum pernah dihentikan biasanya mengira berhenti adalah pilihan yang mudah. Mereka melihatnya dari jauh, dari posisi aman, tanpa pernah tahu rasanya melangkah satu atau dua langkah ke depan lalu dipaksa berhenti tepat di sana. Tepat saat tubuh sudah condong, niat sudah terlanjur jauh, dan hati sudah mulai percaya.
Mereka yang pernah berada di titik itu akan mengerti. Mengerti bahwa berhenti bukan selalu tentang kalah, tapi tentang menjaga diri agar tidak hancur sepenuhnya. Tentang menyadari bahwa melanjutkan sesuatu yang tidak lagi memberi ruang bernapas hanya akan mengikis perlahan, tanpa suara.
Ada orang yang menyerah sebelum mencoba. Ada pula orang yang berhenti setelah mencoba terlalu lama. Keduanya tidak bisa disamakan. Yang pertama mungkin belum mengenal batas. Yang kedua sudah terlalu akrab dengannya.
Aku tidak berhenti karena lemah. Aku berhenti karena aku belajar. Bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Bahwa tidak semua jalan perlu ditempuh sampai ujung, terutama jika ujungnya hanya membuat kita kehilangan diri sendiri.
Dan mungkin hanya orang-orang yang pernah dihentikan di tengah langkah yang akan paham: kadang, keputusan paling berani bukanlah melanjutkan, melainkan berani berhenti dengan sadar.
Komentar
Posting Komentar