Aku duduk di hadapan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya, membiarkan sisa kafein yang mendingin itu menjadi saksi bisu atas sebuah audit internal yang melelahkan. Di luar, langit tampak sedang menimbang-nimbang antara mendung atau hujan, persis seperti pikiranku yang sedang menimbang-nimbang antara tetap tinggal dalam ketidaktahuan yang nyaman atau melangkah ke dalam kesadaran yang menyakitkan.
Setiap orang punya titik sadar yang berbeda. Namun, yang jarang dibicarakan adalah fakta bahwa mendapatkan kesadaran diri itu hampir selalu berarti melawan diri sendiri. Dan melawan diri sendiri, dalam banyak hal, adalah sebuah kegiatan menyakiti diri yang paling jujur.
Kita sering menganggap kesadaran sebagai cahaya, padahal seringkali ia adalah pisau bedah. Ia menyayat skenario-skenario naif yang kita bangun sejak remaja. Skenario tentang hidup yang linear, tentang kesuksesan yang pasti datang, atau tentang diri kita yang akan selalu menjadi pahlawan dalam cerita kita sendiri. Kini kunci-kunci lama itu sudah tidak lagi pas dengan lubangnya. Dan memaksanya masuk hanya akan membuat tanganku babak belur.
Pertanyaannya kemudian: siapkah kita untuk benar-benar sadar? Dan di titik sakit mana kita sanggup menoleransi keteguhan itu?
Manusia adalah makhluk yang paling mengerti titik lemahnya sendiri, namun seringkali menjadi yang paling keras kepala untuk bereaksi. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, pukulan macam apa yang sebenarnya kubutuhkan untuk sekadar "bangun"?
Ada orang-orang yang cukup dengan cubitan kecil dari semesta. Melihat daun layu atau mendengar percakapan asing di kafe. Lalu mereka tersadar dan berbenah. Ada juga yang butuh tamparan keras dari kehidupan; kegagalan yang telak atau perpisahan yang menghantam ego.
Namun, sepertinya aku termasuk tipe manusia yang harus babak belur oleh keadaan terlebih dahulu. Tipe yang baru akan menoleh saat seluruh tembok yang kubangun sudah runtuh dan debunya menyesakkan napas. Mungkin karena aku terlalu terlatih merasionalkan kesedihan hingga semuanya terasa datar, sehingga aku butuh sesuatu yang benar-benar menghancurkan untuk bisa merasakan denyut realitas kembali.
Kesadaran itu mahal. Biayanya adalah kenyamanan ego.
Satu hal yang pasti, ketika aku akhirnya sampai pada titik sakit itu, aku hanya bisa terduduk diam dan mengakui satu hal: bahwa di mata semesta, kita memang tidak sepenting itu. Dan anehnya, dalam perasaan tidak penting itulah, aku justru menemukan keikhlasan yang paling murni. Persis seperti mencintai bunga; aku belajar untuk membiarkannya tetap berakar, membiarkan rasa sakit itu tetap ada tanpa perlu memetik atau menguasainya.
Biarlah sore ini aku tetap babak belur, selama itu adalah harga yang harus dibayar untuk tidak lagi hidup dalam fiksi yang kuciptakan sendiri.
Komentar
Posting Komentar