Aku memperhatikannya dari sudut ruangan ini. Tatapannya terpaku pada satu titik yang entah di mana, tapi aku tahu persis, lanskap di dalam kepalanya sedang bekerja dengan kecepatan yang mengerikan. Ia sedang menghitung, menyusun ulang rencana, mencemaskan hal-hal yang belum terjadi, dan memastikan dunia kecilnya tidak runtuh berantakan.
Perempuan itu, dengan segala keras kepalanya, seolah merasa harus selalu menjadi poros yang menopang segalanya.
Ada keletihan yang pekat di ujung matanya. Sebuah lelah yang tak pernah berani ia terjemahkan menjadi suara. Bagi orang-orang yang terbiasa mandiri sepertinya, meminta bantuan mungkin terasa seperti sebuah kekalahan. Entah sejak kapan, zaman modern mendikte bahwa menjadi kuat berarti tidak boleh terlihat rapuh sedetik pun. Sebuah ilusi kemandirian yang diam-diam menyesakkan.
Tapi dari kacamata ini, kedewasaan bukanlah tentang seberapa lama seseorang sanggup menahan napas di bawah air sampai paru-parunya nyaris pecah.
Menghampirinya lalu bertanya basa-basi, "Ada yang bisa kubantu?" rasanya bukan langkah yang tepat. Menyuruh seseorang yang sedang kelelahan untuk berpikir dan mendelegasikan tugas hanyalah menambah satu rantai beban administratif baru di kepalanya. Kepedulian yang berkesadaran tidak bekerja dengan cara yang dangkal seperti itu. Ia tidak menunggu instruksi untuk bertindak.
Maka, hal paling rasional yang bisa dilakukan seorang pria adalah menembus sunyi itu. Mengambil cangkir kopinya yang sudah mengering dan membawanya ke tempat cuci, membereskan sisa kekacauan di mejanya, atau sekadar mengambil alih kemudi tanpa bicara saat waktunya untuk pulang. Satu beban kecil, ditarik diam-diam dari ransel imajiner yang terus dipikulnya.
Tanpa perayaan. Tanpa validasi. Tanpa perlu diminta.
Tidak ada manusia yang harus selalu memaksakan diri menjadi pahlawan atau memegang kendali atas segalanya setiap saat. Terkadang, yang paling dibutuhkan seseorang hanyalah satu atau dua sekrup dunianya yang longgar diputar kembali oleh tangan lain, agar ia bisa meredupkan layarnya, bersandar, dan belajar lagi caranya bernapas tanpa tergesa.
Komentar
Posting Komentar