Sebagai pria yang menyukai bunga, setelah sekian lama aku akhirnya memahami sesuatu tentang keindahan, kepemilikan, dan keikhlasan.
Bunga selalu terlihat begitu tenang.
Warnanya, bentuknya, dan cara ia diam di tempatnya membuat keindahan itu terasa utuh.
Seperti kebanyakan orang, aku pernah ingin memilikinya.
Namun semakin lama aku menyadari satu hal sederhana: memandangnya saja sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Ada keindahan yang justru rusak ketika dipaksakan menjadi milik.
Kesadaran itu kemudian membawaku memahami sesuatu tentang diriku sendiri.
Aku cenderung ceroboh, dan sering kali belum benar-benar siap.
Keindahan yang tidak dirawat dengan benar pada akhirnya hanyalah perusakan yang diromantisasi.
Dari situ aku mulai memahami sesuatu tentang hubungan dengan seseorang.
Ada kehidupan yang memang sudah berjalan dengan baik.
Tenang.
Rapi.
Seperti bunga yang tumbuh tepat di tempat yang seharusnya.
Jika orang seperti aku datang dengan kecerobohan yang kubawa, mungkin yang terjadi bukan kebahagiaan, melainkan sebuah perjudian.
Ada hidup yang sudah tersusun begitu pas.
Kehadiran orang lain tidak selalu memperindahnya.
Kadang justru membuat semuanya dipertanyakan.
Jika aku berada di posisinya, aku pun tidak yakin hidup akan berjalan seindah itu.
Dunia memang tidak pernah benar-benar menentu.
Dan mungkin untuk beberapa keindahan, cara terbaik untuk menjaganya adalah dengan tidak ikut campur terlalu jauh.
Kadang cukup dengan melihatnya tumbuh dari jarak yang seharusnya.
Mungkin tidak semua keindahan diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian hanya untuk disadari keberadaannya lalu dibiarkan tetap utuh tanpa tangan kita yang ceroboh.
Komentar
Posting Komentar