Aku sering melihatnya dalam sebuah percakapan yang canggung. Sebuah anggukan kecil yang diberikan saat hatinya sebenarnya ingin menggeleng. Sebuah kata "ya" yang diucapkan dengan nada yang sedikit bergetar, seolah-olah dia sedang memikul beban yang bukan miliknya hanya agar orang lain tidak merasa kecewa.
Banyak yang dibesarkan dengan gagasan bahwa menjadi "baik" berarti harus selalu tersedia. Bahwa mencintai berarti harus melupakan diri sendiri, dan bahwa memiliki batasan adalah bentuk dari keegoisan.
Terutama bagi mereka yang sedang belajar menata hidup di usia-usia yang penuh tuntutan ini. Ada ketakutan yang sunyi: Jika aku berhenti menyenangkan semua orang, apakah masih ada yang tersisa untuk mencintaiku?
Bagiku, tidak ada yang lebih melelahkan daripada melihat seseorang yang kehilangan dirinya sendiri demi menjaga perasaan dunia.
Aku justru menemukan sebuah daya tarik yang luar biasa. Sebuah gravitasi yang nyata, pada mereka yang tahu di mana dirinya berakhir dan di mana orang lain dimulai. Seseorang yang cukup berani untuk berkata, "Ini adalah ruangku, dan aku tidak mengizinkan siapa pun untuk mengacak-acaknya."
Menjadi pria yang stabil bukan berarti kamu ingin mengontrol pasangannya. Sebaliknya, itu berarti kamu menghormati kedaulatannya. Aku tidak mencari seseorang yang bisa kujadikan "tempat sampah" emosional, atau seseorang yang harus selalu setuju dengan setiap kata-kataku hanya agar egoku tetap terjaga.
Aku lebih suka bersanding dengan seseorang yang utuh. Seseorang yang mencintai dirinya sendiri dengan cara yang cukup dewasa sehingga dia tidak butuh validasi terus-menerus dariku.
Ada ketenangan yang sangat dalam saat dua orang yang sama-sama berdaulat atas emosinya sendiri bertemu. Kita tidak sedang saling melengkapi karena kita merasa kurang; kita sedang berbagi karena kita merasa penuh.
Bagi mereka yang selama ini merasa harus selalu menjadi penawar bagi luka orang lain, aku ingin menjadi pengingat yang tenang: Memiliki pagar bukan berarti kamu sedang mengunci dunia di luar. Itu hanya berarti kamu sedang menghargai rumah yang ada di dalam dirimu.
Dan aku, lebih suka mengetuk pintu rumah yang terjaga, daripada masuk ke ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka hingga siapa pun bisa masuk dan meninggalkan noda.
Karena pada akhirnya, cinta yang paling indah bukan datang dari dua orang yang saling membutuhkan untuk merasa hidup, tapi dari dua orang yang sudah hidup secara mandiri dan memilih untuk berjalan bersama.
Tanpa harus kehilangan siapa diri mereka sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar