Aku sering berdiri di balkon, mengamati bagaimana asap rokok bergerak mundur diterjang angin sebelum akhirnya membubung tinggi ke langit yang luas. Kadang, hidup memang bekerja dengan cara yang serupa. Sebuah mekanika yang tidak selalu dipahami oleh mereka yang hanya memuja garis lurus kemajuan.
Belakangan ini, aku menyadari bahwa beberapa kemunduran sebenarnya adalah kemajuan yang signifikan. Hanya saja, kita seringkali terlalu bising dengan ego untuk bisa melihatnya sebagai persiapan.
Ada sebuah prinsip yang kusebut sebagai "Prinsip Lontar." Seseorang yang benar-benar memahami cara kerja ketapel tidak akan pernah takut dengan sejengkal kemunduran. Sebab, ia tahu bahwa semakin jauh karet ditarik ke belakang, semakin besar energi potensial yang sedang dikumpulkan. Kemunduran itu bukanlah kekalahan; ia adalah tegangan yang diperlukan untuk sebuah peluncuran.
Banyak dari kita. Termasuk aku. Kerap merasa gagal saat hidup memaksa kita mundur satu langkah. Kita melihat teman-teman melaju di jalurnya, sementara kita merasa ditarik mundur oleh keadaan, oleh kegagalan, atau oleh penolakan yang terasa menyesakkan.
Namun, beberapa manusia memang ditakdirkan untuk melenting jauh justru setelah mereka berani melepaskan kemunduran itu sendiri sebagai gaya pendorong yang diberikan Tuhan. Kemunduran adalah pegas emosional. Ia adalah cara semesta memastikan bahwa saat kita "lepas" nanti, kita tidak hanya sekadar berjalan, tapi melesat melampaui ekspektasi naif yang pernah kita susun dulu.
Pada dasarnya, manusia selalu punya ruang di dalam kepalanya untuk menciptakan kemajuan dari segala jenis tolak yang datang. Penolakan bukan dinding; ia adalah tumpuan kaki untuk melompat lebih tinggi.
Mungkin saat ini aku sedang ditarik mundur. Mungkin karet ini sedang meregang kencang hingga rasa sakitnya mulai tidak tertoleransi. Tapi aku memilih untuk tenang. Aku sedang mempelajari arah angin dan membidik target dengan lebih presisi. Karena aku tahu, saat tarikan ini dilepaskan, aku tidak akan kembali ke tempat semula.
Hidup memang tidak selalu menarik, tapi ia selalu mendorong. Dan kadang, dorongan terkuatnya justru datang dari arah belakang.
Komentar
Posting Komentar