Dulu, aku terjebak dalam premis dangkal bahwa kecantikan adalah segalanya. Ternyata hidup punya cara yang lebih elegan untuk mengajariku tentang apa yang sebenarnya kucari. Pria sering disebut sebagai makhluk visual, sebuah label yang mungkin benar bagi mereka yang hanya bermain di permukaan. Namun bagiku, ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar apa yang tertangkap oleh mata.
Aku mulai melihat sebuah pola pada mereka yang benar-benar mampu mengusik ketenanganku. Mereka adalah wanita yang memiliki segalanya, namun tidak merasa perlu untuk memamerkannya. Mereka berjalan di dunia tanpa menjadikan paras sebagai mata uang untuk mempermudah keadaan. Ada kekuatan yang sunyi dalam cara mereka bekerja, berpikir, dan menjalani hari tanpa haus akan validasi.
Mereka pintar, namun tidak pernah menggunakan kecerdasannya untuk mengecilkan orang lain. Mereka sederhana, bukan karena mereka tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, tapi karena mereka telah selesai dengan urusan ego. Itulah tipe wanita yang mustahil untuk dibenci, sekaligus paling sulit untuk dimiliki. Bukan karena mereka angkuh, tapi karena mereka tidak sedang menunggu untuk ditemukan.
Aku menyadari satu hal. Alasan mengapa sosok seperti itu terasa begitu jauh bukanlah karena nasib yang buruk atau keberuntungan yang tidak merata. Mereka adalah cermin. Mereka tidak mencari siapa yang paling keras berusaha atau siapa yang paling memuja. Mereka mencari resonansi.
Aku tidak lagi meratapi ketidakhadiran mereka sebagai sebuah ketidakadilan. Aku hanya sedang belajar untuk memahami bahwa untuk berdiri di samping keheningan yang sepadan, aku pun harus menjadi pria yang sudah selesai dengan kegaduhan di dalam kepalaku sendiri.
Komentar
Posting Komentar