Dari dulu aku selalu mengira tipe wanita yang kusukai adalah yang cantik jelita.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Beberapa pertemuan dalam hidup rupanya memang hadir hanya untuk menyadarkan manusia tentang apa yang sebenarnya ia cari.
Orang sering mengatakan bahwa pria adalah makhluk visual.
Mungkin benar.
Namun setelah kupikirkan lagi, tidak sepenuhnya begitu.
Ada juga anggapan bahwa pria lebih logis daripada perasa.
Itu pun rasanya tidak sepenuhnya tepat.
Karena ketika aku mencoba mengingat kembali beberapa wanita yang pernah benar-benar menarik perhatianku, ada pola yang aneh.
Mereka memiliki kecenderungan yang sama.
Mereka tidak tahu bahwa dirinya cantik.
Atau setidaknya mereka tidak hidup dengan kesadaran itu.
Mereka tidak berjalan di dunia dengan membawa kecantikannya sebagai modal.
Mereka hanya hidup, bekerja, dan menjalani hari seperti manusia pada umumnya.
Padahal dengan paras yang mereka miliki, setengah persoalan hidup sebenarnya bisa selesai jauh lebih mudah.
Namun mereka tetap memilih bekerja keras.
Mereka pintar, tetapi tidak pernah menggunakan kepintarannya untuk membuat orang lain terlihat lebih bodoh.
Mereka sederhana, bukan karena tidak punya sesuatu untuk dibanggakan, tetapi karena mereka tidak merasa perlu membanggakannya.
Itulah tipe wanita yang rasanya sulit dibenci oleh siapa pun.
Dan mungkin justru karena itulah mereka juga sulit dimiliki.
Kesadaran itu akhirnya menjawab sebagian pertanyaanku sendiri.
Mungkin alasan aku tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan itu sederhana saja.
Aku hanyalah salah satu dari sekian banyak pria yang mencoba mendekati wanita yang tidak pernah menjual dirinya di mana pun.
Wanita seperti itu biasanya tidak sedang mencari siapa yang paling menginginkan mereka.
Mereka hanya berjalan dengan hidupnya sendiri.
Dan sering kali, mereka tidak memilih pria yang paling keras berusaha mendapatkannya.
Justru terkadang mereka memilih pria yang bahkan tidak perlu berusaha terlalu keras untuk memilikinya.
Dan seperti banyak hal lain dalam hidup,
pada akhirnya ini kembali pada satu hal yang sama:
keberuntungan.
Sayangnya, keberuntungan tidak pernah dibagikan secara merata kepada semua orang.
Komentar
Posting Komentar