Aku mengamati bagaimana manusia mengejar tujuan yang nyaris serupa. Sebuah titik yang mereka sebut sebagai rasa aman dan kebermaknaan. Namun, pemandangan yang tersaji di sepanjang jalan selalu bercerita tentang hal yang berbeda. Aku melihat mereka yang memulai perjalanan dengan peta yang lengkap dan kendaraan yang sudah siap di depan pintu. Bagi mereka, kesalahan adalah sebuah anomali yang mahal, karena setiap fasilitas yang mereka genggam menuntut hasil yang sempurna. Di balik kemudahan itu, ada tekanan sunyi yang memaksa mereka untuk tidak boleh retak sedikit pun.
Di sisi lain, aku juga melihat mereka yang berangkat dengan tangan kosong. Tidak ada peta, tidak ada kendaraan, hanya ada keharusan untuk terus melangkah. Bagiku, ini bukan sekadar tentang kemiskinan fasilitas, melainkan tentang pengasahan akal yang brutal. Setiap persimpangan adalah pertaruhan, dan setiap langkah adalah pelajaran tentang cara bertahan hidup. Keberhasilan mereka mungkin terlihat heroik bagi dunia, namun bagiku, itu adalah konsekuensi logis dari daya tahan yang telah ditempa oleh keadaan.
Aku berhenti membandingkan hasil akhir tanpa melihat jarak tempuh yang telah dilalui. Dunia mungkin sering kali buta, menilai kecepatan tanpa menghitung beban di pundak, atau menyebut kegagalan tanpa melihat ketiadaan panduan sejak awal. Namun, aku memilih untuk tidak terjebak dalam rasa kesal terhadap ketidakadilan itu. Aku menyadari bahwa kedaulatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mewah titik berangkatnya, melainkan oleh seberapa presisi akalnya bekerja saat rencana mulai runtuh.
Pada akhirnya, hidup memang tidak pernah menjanjikan garis awal yang sejajar. Aku tidak lagi menuntut dunia untuk bersikap adil dalam menilai perjalananku. Aku hanya fokus pada bagaimana aku mengelola apa yang ada di tanganku sekarang. Aku tidak butuh dunia mengerti bahwa aku sedang berjalan kaki di saat yang lain berkendara. Cukuplah aku yang memahami bahwa setiap jengkal tanah yang kupijak dengan susah payah telah membentuk otot jiwaku menjadi jauh lebih kuat daripada mereka yang hanya tinggal duduk manis di kursi penumpang.
Komentar
Posting Komentar