Tujuan hidup manusia sering kali sama. Hampir semua orang ingin sampai pada tempat yang mereka sebut cukup, aman, dan bermakna. Yang membedakan bukanlah arah, melainkan cara setiap orang berangkat menuju ke sana.
Sebagian orang memulai perjalanan dengan persiapan yang nyaris sempurna. Mereka memiliki kendaraan, peta, bahkan seseorang yang mengemudikan arah. Jalan terasa lebih mulus, keputusan lebih ringan, dan kesalahan jarang diberi ruang. Mereka tinggal menjalani. Namun di balik semua kemudahan itu, ada beban yang tidak kecil. Gagal bukan sekadar kegagalan, melainkan pelanggaran terhadap segala fasilitas yang telah diberikan. Dengan bekal sebesar itu, kegagalan dianggap tidak wajar.
Sebagian lainnya memulai perjalanan dengan tangan kosong. Mereka tahu tujuannya, tetapi tidak tahu bagaimana mencapainya. Tanpa kendaraan, mereka harus berjalan. Tanpa peta, mereka harus bertanya di setiap persimpangan. Tanpa bekal, mereka belajar bertahan dari hari ke hari. Setiap langkah menuntut akal, bukan kenyamanan. Setiap keputusan membawa risiko. Maka ketika mereka berhasil, keberhasilan itu terasa seperti kisah heroik. Dan ketika mereka gagal, dunia cenderung memakluminya.
Namun perjalanan tidak hanya ditentukan oleh bekal. Di titik inilah akal bekerja. Dua orang dengan fasilitas yang sama bisa berakhir sangat berbeda. Dua orang tanpa apa pun juga tidak selalu berjalan dengan hasil yang sama. Akal menentukan bagaimana seseorang membaca keadaan, memilih langkah, dan bertahan ketika rencana runtuh. Privilege memudahkan, tetapi tidak menjamin. Ketiadaannya menyulitkan, tetapi tidak sepenuhnya menutup jalan.
Masalahnya, kita sering menilai hasil tanpa pernah melihat titik berangkat. Kita membandingkan capaian tanpa menghitung jarak yang ditempuh. Kita menyebut seseorang lambat tanpa tahu bahwa ia berjalan kaki. Kita menyebut seseorang gagal tanpa tahu bahwa sejak awal ia tidak pernah diberi peta.
Keberhasilan dan kegagalan tidak pernah berdiri sendiri. Keduanya selalu lahir dari konteks. Dari bekal apa seseorang memulai, dan dari akal apa ia bertahan. Mungkin yang perlu kita pelajari bukan siapa yang sampai lebih dulu, melainkan bagaimana setiap orang berjuang dengan apa yang ia miliki.
Karena perjalanan hidup tidak pernah adil dalam titik awal. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba adil dalam cara memahami.
Komentar
Posting Komentar