Ada sebuah suara yang terkadang lebih bising daripada teriakan: bunyi notifikasi di jam dua pagi yang tak pernah benar-benar menjanjikan apa pun.
Aku sering melihatnya. Percakapan yang menggantung di udara seperti asap rokok yang enggan hilang namun juga tak bisa digenggam. Kita berada di era di mana "kebebasan" sering kali hanyalah nama lain dari ketakutan untuk memilih satu arah. Kita membiarkan pintu-pintu tetap setengah terbuka, hanya agar kita punya jalan keluar saat segalanya mulai terasa terlalu nyata.
Tapi, bukankah angin yang masuk dari celah pintu itu justru yang paling sering membuat kita menggigil?
Banyak yang bangga dengan permainan ini. Tentang siapa yang paling lambat membalas pesan, atau siapa yang paling sedikit menunjukkan ketertarikan. Seolah-olah, dalam perlombaan ini, pemenangnya adalah dia yang paling tidak peduli.
Bagiku, itu adalah keletihan yang tidak perlu.
Aku tidak pernah suka berada di ambang pintu. Bukan karena aku terburu-buru, tapi karena aku tahu betapa melelahkannya menebak-nebak arah angin di ruangan yang tak punya jendela. Ada sebuah ketenangan yang berat, sebuah gravitasi. Saat kita berani meletakkan semua kartu di atas meja. Bukan untuk memaksa, tapi untuk memberi ruang bagi orang lain agar mereka tahu di mana mereka sedang berpijak.
Bagi mereka yang sudah terlalu sering tersesat di dalam kabut ketidakpastian, kejujuran yang tenang adalah bentuk perlindungan yang paling murni. Itu bukan soal pengakuan cinta yang meledak-ledak; itu soal memberikan kepastian bahwa saat mereka bersandar, ada sesuatu yang cukup kokoh untuk menahan beban itu.
Aku lebih suka menjadi titik yang jelas di atas peta, daripada menjadi garis putus-putus yang tak tahu di mana harus berakhir.
Karena pada akhirnya, rumah bukanlah tempat yang kuncinya harus kita tebak setiap hari. Rumah adalah tempat di mana pintunya selalu tahu kapan harus tertutup rapat untuk melindungi, dan kapan harus terbuka lebar untuk menyambut.
Dan di antara keduanya, tidak boleh ada keraguan.
Komentar
Posting Komentar