Ada sebuah jeda yang selalu terasa sama.
Tepat setelah bunyi shutter kamera ponsel berhenti, dan cahaya layar perlahan meredup karena tidak lagi disentuh. Di detik itu, aku sering melihat sebuah wajah yang kembali ke bentuk aslinya. Sebuah helaan napas yang tidak akan pernah sampai ke unggahan mana pun.
Kita sedang hidup di era di mana setiap inci dari diri kita harus memiliki kurasi. Rambut yang jatuh di dahi, sudut cangkir kopi yang presisi, hingga cara kita tertawa yang harus terlihat "lepas" secara terencana.
Sering kali aku bertanya-tanya, seberapa banyak sisa tenaga yang tertinggal untuk benar-benar merasakan hidup, jika seluruh energi sudah habis hanya untuk membuktikan bahwa kita sedang menikmatinya?
Beberapa orang menyebutnya sebagai pencapaian. Bagiku, itu terlihat seperti keletihan yang sunyi.
Pernah sekali waktu, aku membiarkan ponselku mati selama beberapa jam. Dunia tidak runtuh, tapi ada sesuatu yang mendadak terasa sangat nyata: tekstur meja kayu di bawah jemariku, aroma hujan yang benar-benar basah, dan berat dari pikiranku sendiri yang tidak lagi terdistraksi oleh riuh rendah linimasa.
Aku tidak mencari seseorang yang wajahnya selalu pas dalam bingkai foto. Aku lebih tertarik pada apa yang tersisa saat layar itu dipadamkan. Pada retakan-retakan kecil di balik senyum yang dipoles, atau pada keraguan yang disimpan rapat di bawah keterangan foto yang tampak sangat percaya diri.
Ada sebuah gravitasi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat dua orang bisa duduk bersama, membiarkan semuanya menjadi berantakan, tanpa ada keinginan sedikit pun untuk merapikannya demi sebuah kesan.
Karena pada akhirnya, yang paling melelahkan bukan tentang menjadi siapa-siapa di mata dunia. Tapi tentang ketakutan bahwa jika kita berhenti sejenak untuk menjadi biasa saja, kita akan kehilangan tempat untuk pulang.
Dan aku, lebih suka menjadi rumah yang gelap namun hangat, daripada lampu panggung yang menyilaukan tapi tidak punya tempat untuk sekedar bersandar.
Komentar
Posting Komentar