Aku telah lama berhenti mengejar predikat bajik hanya untuk mendapatkan pengakuan dari luar. Banyak orang terjebak dalam upaya untuk terlihat benar, bersikap lembut karena takut ditinggalkan, atau memaafkan saat batinnya masih penuh dengan luka. Aku menyadari bahwa kebajikan yang lahir dari rasa takut hanyalah sebuah kepalsuan yang tersusun rapi. Hari ini, aku tidak lagi tertarik pada upaya untuk sekadar dianggap sebagai orang baik. Aku memilih untuk menjadi nyata, sebuah posisi yang jauh lebih berat namun memberikan kedaulatan penuh atas kejujuranku sendiri.
Dulu, aku mungkin merasa perlu menjelaskan setiap niatku agar tidak disalahpahami. Sekarang, aku memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini layak mendapatkan jawaban. Keheninganku bukan lagi tempat persembunyian bagi rasa takut, melainkan sebuah ruang di mana aku mengamati realitas tanpa perlu terburu-buru memberikan vonis. Aku berhenti berdebat dengan kebisingan dunia. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang matang tahu kapan harus menarik diri, bukan karena dia kalah, tetapi karena dia terlalu menghargai energinya untuk dihamburkan pada hal-hal yang remeh.
Kebijaksanaan yang kupahami sekarang tidak lagi tentang mengetahui segala jawaban, melainkan tentang kemampuan untuk menahan diri saat nalar memberikan terlalu banyak provokasi. Aku tidak lagi mencari panggung untuk didengar. Aku memilih untuk berdiri dengan kepala dingin di tengah kekacauan, bukan sebagai penengah yang abu-abu, melainkan sebagai poros yang stabil. Aku tidak butuh dunia mengerti bahwa aku memiliki niat yang baik. Integritasku tidak bergantung pada seberapa banyak orang yang setuju dengan caraku mengambil langkah.
Jika kelak aku harus meninggalkan jejak, aku tidak ingin ia berupa deretan kalimat puitis atau teori tentang hidup. Aku ingin meninggalkan frekuensi ketenangan. Sebuah bukti bahwa di dunia yang menuntut setiap orang untuk berteriak, masih ada seseorang yang mampu berjalan dengan lembut tanpa kehilangan ketegasannya. Aku tidak sedang berusaha memenangkan hidup, aku sedang menguasainya dengan cara yang paling sunyi. Dan ketika waktuku selesai, aku akan pergi dengan punggung yang tegak, tanpa pesan tambahan, karena setiap jengkal caraku hidup sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.
Komentar
Posting Komentar