Kadang orang yang dianggap gila hanyalah mereka yang berjalan berbeda. Bukan tersesat, bukan salah, hanya menapaki jalur yang tidak berani dilalui orang lain.
Mereka berjalan di belantara yang sunyi, di antara rerimbunan jalan yang takut disentuh kebanyakan orang. Langkahnya tidak selalu terlihat rapi, napasnya kadang tersengal, tapi setiap jejak adalah upaya untuk membuka kemungkinan baru. Sementara kita, dari luar, menatap dan cepat memberi label: “tersesat”, “salah”, “gila”. Padahal kita jarang mau menunggu, jarang mau melihat lebih dalam, jarang mau memahami bahwa yang berbeda bukan berarti salah.
Banyak pemikiran yang dulu disebut gila, aneh, atau mustahil, kini menjadi rujukan bagi mereka yang dianggap sepenuhnya waras. Tetapi perjalanan itu tetap sepi, tetap penuh pengorbanan yang tak terlihat, penuh pertarungan yang hanya diketahui oleh mereka yang berani melangkah sendirian. Mereka rela dianggap tersesat, rela dianggap berbeda, agar orang lain bisa melihat jalan yang belum pernah disinggahi.
Kita sering merasa mengerti, padahal kita hanya melihat permukaan, hanya menilai dari bayangan. Kita terbiasa nyaman dengan jalur yang sudah ramai dilalui, dan ketika ada yang berani menembus belantara yang gelap, kita terguncang. Kita menuduhnya tersesat, padahal sesungguhnya mereka sedang membuka jalan.
Gila bukan kehilangan akal. Tersesat bukan kehilangan arah. Keduanya kadang hanyalah keberanian yang terlihat liar di mata orang lain. Mereka berani menempuh jalur yang tidak berani ditempuh banyak orang, menghadapi sepi, risiko, dan penolakan. Dan dari keberanian itu lahir kemungkinan baru, pemikiran baru, jalan baru.
Mungkin tulisan ini juga sebuah protes halus: bahwa berbeda bukan salah, dan bahwa menilai seseorang tersesat hanya karena jalannya tidak sama dengan kita adalah kesalahan terbesar. Hidup tidak selalu menuntun semua orang ke satu jalan yang rapi dan familiar. Kadang kita perlu berhenti sejenak, menurunkan pandangan, dan mengerti bahwa gila dan tersesat sering kali hanyalah kata-kata yang menutupi ketakutan kita sendiri pada perbedaan.
Dan mungkin, yang kita anggap tersesat justru yang menyelamatkan kita dari ketersesatan, dari kebiasaan berpikir yang sempit, dari keyakinan bahwa jalan yang ramai sejak dulu adalah satu-satunya yang benar, paling mudah, dan paling indah. Mereka yang berani berbeda membuka celah bagi kita untuk melihat dunia dengan cara yang sebelumnya tak pernah kita bayangkan.
Di dunia yang cepat memberi label, mereka yang berani berbeda adalah pengingat bahwa jalan baru selalu dimulai dari kesendirian. Dan mereka yang tersesat di mata orang lain, mungkin justru sedang menunjukkan arah yang belum pernah kita lihat.
Komentar
Posting Komentar