Langsung ke konten utama

The Dirty Oasis

Di dunia yang sibuk menilai siapa yang baik dan siapa yang jahat, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya mengapa seseorang bisa menjadi seperti itu. Mungkin karena manusia lebih gemar menilai hasil daripada memahami proses. Padahal, di antara kebaikan dan keburukan, selalu ada ruang abu-abu yang disebut alasan, dan kadang, di sanalah hati manusia sebenarnya berdiam.

Mencari orang baik itu melelahkan. Begitu juga menjadi orang baik. Kadang kita merasa sendirian di jalan yang seharusnya ramai oleh niat baik, tapi ternyata hanya sunyi yang menemani. Dan ketika dalam hidup kita tak kunjung menemukan orang baik, apakah menjadi baik masih relevan? Aku rasa, tetap.

Menjadi baik tidak selalu berarti bergumul dengan orang baik. Bahkan manusia paling buruk pun bisa menyimpan sesuatu yang baik, biasanya dalam bentuk pelajaran. Dari mereka kita belajar tentang batas, tentang luka yang jangan diulang, tentang sisi manusia yang harus dijaga agar tak rusak seperti itu. Kebaikan kadang bukan soal meniru, tapi soal memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, ada lapisan kebaikan yang lebih dalam dari sekadar menahan diri. Salah satu bentuk usaha menjadi baik adalah berani memahami alasan seseorang menjadi buruk. Kadang kita terlalu cepat menilai tanpa mau duduk di sudut pandang orang lain. Padahal, memahami bukan berarti membenarkan; itu hanya cara agar hati kita tidak kehilangan arah saat melihat gelap. Karena di balik setiap keburukan, hampir selalu ada cerita yang ingin dimengerti.

Dan mungkin, di sanalah kebaikan menemukan jalannya: tidak dengan menghakimi, tapi dengan mengerti. Hidup di gurun pasir tentu membuat siapa pun dahaga. Tapi haruskah setiap manusia hanya minum dari sumber mata air yang jernih saja? Bukankah menyaring kubangan juga salah satu usaha? Begitu pula dengan menjadi orang baik.

Kita tidak selalu belajar dari teladan, kadang justru dari keburukan yang ingin kita perbaiki. Tidak semua air berasal dari langit, tapi semua bisa jadi penawar jika kita mau berusaha menjernihkannya. Mungkin di situlah letak makna sejati dari menjadi baik: bukan tentang siapa yang layak kita temani, tapi tentang siapa yang kita pilih untuk tidak menyerupai.

Kebaikan tidak lahir dari kenyamanan, tapi dari keberanian untuk tetap jernih di tengah kubangan yang keruh. Dan di antara kekeruhan itu, memahami manusia lain barangkali adalah cara paling halus untuk tetap menjadi manusia. Sebab mungkin, kebaikan sejati bukan tentang menjadi cahaya di atas, tetapi tentang tetap jernih meski hidup di dasar.

Tip Jar: TrakteerBuy Me a Coffee

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Tidak Sempurna

Pertama-tama, aku meminta maaf kepada diriku sendiri. Hari ini, aku memilih jujur, bukan kepada dunia, tapi kepada diriku. Menjadi manusia yang penuh ketakutan bukan pilihanku. Namun aku hidup dengan rasa haus akan validasi. Aku kerap mengambil keputusan hanya agar terlihat baik di mata orang lain, bahkan di mataku sendiri. Ironisnya, dari sudut mana pun, aku selalu merasa tidak cukup. Hari-hariku dihabiskan untuk menilai, mengkritik, lalu menghukum diri sendiri. Blog ini menjadi saksi bisu. Entah berapa ribu kata yang telah kuhapus. Polanya sederhana, menekan tombol "reset". Alasannya pun sama, aku merasa tidak cukup baik. Aku menjadi hakim bagi diriku sendiri, dan hukumannya selalu sama, menghapus jejak lalu memulai lagi. Ketakutan itu melahirkan perfeksionisme yang menyesakkan. Aku mengenali gejalanya, merasakannya, dan akhirnya memahami bahwa ini kebiasaan buruk yang harus dihentikan. Tidak semua hal harus sempurna. Kekurangan tidak membunuh. Celah kecil dalam hidup bukan...

Alasan Jatuh Cinta

Apa alasan seseorang jatuh cinta? Jawabannya banyak, namun tetap terasa rumit. Bagiku, menjelaskan bagaimana aku jatuh cinta sama saja dengan membongkar kebodohan yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Aku tidak pernah mencintai karena logika. Aku hanya jatuh begitu saja. Seolah tidak pernah belajar dari luka yang datang sebelumnya. Kadang aku berpikir, bahkan kata “bodoh” pun terlalu baik untuk mendeskripsikanku. Setiap kali jatuh, yang kutemukan bukan jawaban. Hanya kekosongan, kebingungan, pembenaran yang dipaksakan, dan harapan yang terlalu besar untuk seseorang yang bahkan belum tahu siapa aku. Aku bukan orang yang sulit jatuh cinta. Namun aku juga bukan orang yang mudah mencintai. Perasaanku sudah lama berantakan, mungkin itu sebabnya semuanya terasa acak, tak terstruktur, dan sering kali sia-sia. Jujur saja, aku merasa tidak pernah ada yang benar-benar mencintaiku. Tidak ada yang dengan sukarela terjun ke kebodohan yang sama. Terjebak, lalu memilih tetap tinggal bersamaku di dala...

Halaman Paling Rumit Dari Buku Sederhana

Aku telah membaca banyak hal: tulisan yang rapi, pikiran yang berantakan, bahkan diam yang kadang lebih jujur daripada kata-kata. Namun ada satu bagian dari hidup yang selalu luput dariku, seolah setiap kali kudekati, maknanya mengabur seperti tinta yang belum kering: wanita. Mereka bukan misteri, tapi juga bukan cerita yang siap dijelaskan. Mereka lebih seperti puisi yang sengaja dibiarkan terbuka, tempat jeda lebih penting daripada kata, dan perasaan lebih mendahului makna. “Iya” bisa menjadi sebuah undangan, atau hanya kehati-hatian yang terdengar lembut. “Tidak” pun kadang bukan penolakan, melainkan cara halus menjaga dirinya tetap utuh. Setiap sinyal yang mereka beri tidak pernah hitam-putih; selalu ada gradasi yang luput dibaca oleh mata yang terlalu terburu-buru. Mungkin salahku adalah mencoba memahami mereka dengan logika yang sama kupakai untuk memahami dunia. Padahal mereka hidup dari sesuatu yang lebih halus: dari intuisi, dari rasa, dari gelombang batin yang jarang benar-be...

Aku Tidak Bisa Hidup Dengan Hanya Melakukan Hal Yang Aku Sukai

Aku tidak bisa hidup hanya dengan melakukan hal yang aku sukai. Kalimat itu sederhana, tetapi di baliknya ada letih yang tidak pernah berteriak. Ada penerimaan yang tumbuh pelan, seperti luka yang perlahan berubah menjadi kulit baru. Ada masa ketika aku percaya hidup adalah soal mengejar kebahagiaan pribadi. Namun seiring waktu, aku mulai memahami bahwa hidup selalu bersinggungan dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, bagian dari diri yang dulu kujaga rapat ikut larut dalam harapan mereka. Aneh memang. Manusia sering meninggalkan apa yang ia sukai demi orang-orang yang ia cintai. Kita bekerja, menelan bosan, bangun sebelum matahari. Berlari di antara waktu dan lelah. Bukan semata untuk diri sendiri, tetapi agar seseorang di rumah bisa tertawa tanpa beban. Dan entah bagaimana, kita menyebut itu cinta. Lalu aku bertanya pada diriku sendiri. Apakah manusia memang diciptakan untuk seperti ini? Untuk menekan keinginan, mengorbankan sebagian diri, dan menyebutnya kebajikan? Mungkin memang ...

Yang Tenang Tidak Laku Di Dunia Yang Bising

Ada masa dalam hidup ketika aku percaya bahwa kebaikan akan membawa seseorang pada cinta, atau setidaknya pada penerimaan. Ternyata, aku salah. Dunia tidak berputar untuk orang baik. Dunia berputar untuk mereka yang pandai memainkan peran. Mereka yang tahu kapan harus tersenyum, kapan pergi tanpa rasa bersalah, dan kapan berpura-pura peduli lalu menghilang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Aku melihatnya sendiri. Yang menipu dipeluk. Yang kasar dirindukan. Yang bersandiwara justru dijaga. Sementara yang tulus perlahan menghilang di tengah tawa orang lain. Bukan dibenci, hanya tidak dianggap. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian. Karena kebencian setidaknya mengakui keberadaanmu. Diabaikan membuatmu seolah tidak pernah ada. Orang baik terlalu mudah dimaklumi, terlalu cepat memaafkan, terlalu mengerti. Akhirnya, tidak ada yang benar-benar merasa perlu menjaga mereka. Dunia tahu orang baik tidak akan membalas. Tidak akan membiarkan bara menjadi api. Mereka sibuk memadamkan, ...

Papan Bunga, Juru Bicara Kelas Sosial

Setiap pagi, di depan gedung tempatku bekerja, sering kali papan bunga baru berdiri tegak. Warnanya mencolok, hurufnya besar, dan setiap pita seolah berteriak: “Lihat, aku bagian dari perayaan ini.” Awalnya, aku hanya melihatnya sebagai hiasan. Lambang ucapan selamat atau duka. Namun semakin lama, aku sadar papan bunga bukan sekadar papan bunga. Di dalamnya ada simbolisme yang lebih dari sekadar bunga dan pita. Ia adalah pengukuran kelas yang aneh, tapi nyata. Semakin besar, semakin ramai, semakin panjang deretnya di lobi, semakin tinggi pula posisi yang dirayakan. Lucunya, papan bunga membawa pesan sekaligus perbandingan diam-diam. Siapa yang mampu mengirim. Siapa yang cukup penting untuk menerima. Bahkan dalam kematian pun, hierarki itu tetap berjalan. Ia hanya berganti wujud, warna, ukuran, dan kalimat. Aku sering berhenti di depan deretan papan itu. Membaca nama pengirim—perusahaan, pejabat, atau mungkin hanya seseorang yang ingin terlihat. Di antara bunga yang tertata rapi, aku me...

Frekuensi Yang Tenggelam Dalam Keramaian

Ada suara-suara yang tidak lenyap, hanya tenggelam. Mereka tidak kalah keras, hanya tidak dipilih untuk didengar. Dunia ini ramai, dan dalam keramaian itu, yang sunyi sering disalahartikan sebagai tidak ada. Dunia ini tidak dibuat untuk orang-orang yang tenang. Kita dibesarkan dalam diam, dalam ketenangan yang seharusnya menjadi ruang aman. Lalu suatu hari kita sadar: ketenangan tidak dipanggil, tidak dirayakan, tidak disiarkan. Maka kita seperti rumah dengan jendela tertutup—penuh cahaya, tapi tak pernah dilihat. Kau bisa memiliki isi kepala seluas semesta: ide-ide yang berkelok, harapan yang mencakar langit, kedalaman yang tak mudah habis. Namun jika tak ada yang mendengar, kau tetap dianggap kosong. Bukan karena kau hampa, melainkan karena dunia lebih mencintai gema daripada makna. Volume menjadi ukuran. Kedalaman berhenti dihitung. Mereka tidak membaca isi, mereka membaca suara. Yang soraknya paling keras mendapat panggung. Yang berbicara pelan dianggap tak punya suara. Maka wajar ...