Menghormati pilihan seseorang sering terdengar seperti keputusan yang mulia. Padahal di dalamnya, ada kehilangan yang tidak kecil. Ada ego yang harus ditundukkan, ada harapan yang harus dilepas perlahan, dan ada bagian diri yang diam-diam bertanya mengapa aku yang harus mengerti lebih dulu.
Tidak semua orang sanggup berada di posisi ini. Karena menghormati berarti menerima kenyataan bahwa perasaan kita tidak selalu cukup untuk menjadi alasan bagi orang lain bertahan. Dan itu menyakitkan, bukan karena kita ditolak, tetapi karena kita sadar penolakan itu lahir dari keyakinan, bukan ketidaktahuan.
Orang sering berkata, jika benar mencintai maka berjuanglah. Mereka lupa bahwa ada cinta yang justru diuji ketika kita memilih tidak mengganggu arah hidup seseorang. Ada perasaan yang tidak ingin dimenangkan, hanya ingin dijaga agar tidak berubah menjadi luka bagi siapa pun.
Menghormati pilihan bukan tindakan pasif. Ia adalah kerja batin yang sunyi. Kita harus cukup dewasa untuk menahan keinginan meyakinkan, cukup jujur untuk mengakui bahwa kita tidak dipilih, dan cukup utuh untuk tidak membalasnya dengan kebencian.
Di titik ini, cinta tidak lagi tentang hasil. Ia tentang sikap. Tentang bagaimana kita pergi tanpa merusak, bagaimana kita diam tanpa mengutuk, dan bagaimana kita tetap manusia meski hati kita tidak diambil.
Mungkin itulah bentuk cinta yang paling jarang dibicarakan. Cinta yang tidak memiliki, tidak dipamerkan, dan tidak menang. Tapi justru karena itu, ia tidak meninggalkan kerusakan. Ia hanya meninggalkan keheningan yang dewasa.
Komentar
Posting Komentar