Aku telah menghabiskan cukup banyak waktu untuk mengamati apa yang orang sebut sebagai kesempatan. Dulu, aku mungkin melihatnya sebagai sebuah undangan dari dunia luar, sebuah pintu yang seharusnya terbuka bagi mereka yang sudah bersiap dengan matang. Aku berdiri di sana, menjaga integritasku dalam diam, sementara waktu terus berlari tanpa pernah menoleh. Ada sebuah titik di mana penantian itu terasa seperti pengabaian, seolah-olah namaku tidak pernah ada dalam daftar skenario mana pun. Namun, di tengah kesunyian itu, aku menemukan sebuah kebenaran yang jauh lebih dingin: aku tidak sedang menunggu kesempatan, aku sedang menguji kesetiaanku pada diriku sendiri.
Aku berhenti bertanya mengapa dunia seolah-olah tidak pernah memberiku ruang untuk membuktikan apa yang kumampu. Menunggu untuk "diberi giliran" adalah sebuah jebakan ego yang hanya akan membuat harga diri kita menyusut. Aku menyadari bahwa kedaulatan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sering dia dipanggil ke atas panggung orang lain, melainkan oleh kemampuannya untuk tetap berwibawa meski tanpa sorot lampu. Kesempatan bukanlah sebuah hadiah yang dibagikan secara acak oleh nasib, ia adalah resonansi dari keberadaan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Aku tidak lagi tertarik untuk duduk di barisan belakang sambil berharap namaku disebut. Kelelahan yang kurasakan bukan karena aku gagal, melainkan karena aku terlalu lama membiarkan hidupku diatur oleh ritme yang bukan milikku. Aku berhenti mencari celah di pintu yang tertutup rapat. Aku memilih untuk menarik diri dari kerumunan yang haus akan pengakuan dan mulai membangun duniaku sendiri di atas tanah yang kupilih.
Jika dunia tidak menyediakan tempat, itu bukan karena aku tidak terlihat, melainkan karena aku memang tidak diciptakan untuk sekadar mengisi ruang kosong orang lain. Aku adalah subjek yang menentukan ke mana arah energiku harus mengalir. Aku merobek sunyi yang selama ini kupeluk bukan karena aku terdesak, melainkan karena aku menyadari bahwa otoritas tertingginya ada di tanganku. Aku tidak lagi menunggu giliran; aku adalah pusat dari permainanku sendiri.
Komentar
Posting Komentar