Aku sering memperhatikan bagaimana kota ini seolah-olah tidak pernah mengizinkan siapa pun untuk berhenti.
Di antara deru mesin dan cahaya lampu jalan, aku melihat wajah-wajah yang selalu tampak seperti sedang mengejar sesuatu yang tak terlihat. Ada sebuah ketegangan yang tertinggal di sudut mata mereka. Sebuah ketakutan bahwa jika mereka melambat satu detik saja, dunia akan meninggalkan mereka jauh di belakang.
Terutama bagi mereka yang sedang berada di persimpangan usia dua puluhan. Dunia menuntut mereka untuk memiliki segalanya: karier yang melesat, tabungan yang mapan, dan kehidupan sosial yang selalu tampak "sibuk" dan berharga.
Padahal, sering kali yang paling mereka butuhkan bukanlah kecepatan, melainkan sebuah izin untuk sekadar menjadi manusia yang biasa saja.
Aku tidak pernah terkesan dengan seberapa banyak daftar pencapaian yang bisa dipamerkan dalam satu percakapan. Bagiku, itu hanyalah kebisingan lain. Aku justru lebih tertarik pada cara seseorang menikmati aroma kopi yang baru saja diseduh, atau bagaimana mereka bisa terpaku menatap hujan tanpa merasa bersalah karena tidak sedang "melakukan sesuatu".
Ada sebuah gravitasi yang tenang saat seorang pria tidak lagi ikut berlari dalam perlombaan yang tidak punya garis finis itu.
Saat aku bersamanya, aku tidak ingin membicarakan tentang target-target besar atau ambisi yang membakar diri. Aku lebih suka mengajaknya berjalan kaki tanpa tujuan, membiarkan ponsel tetap di dalam saku, dan membiarkan waktu mengalir dengan detaknya yang paling alami.
Bagi mereka yang selama ini dipaksa untuk terus mendaki, memiliki seseorang yang bersedia menemaninya duduk di kaki gunung adalah sebuah kemewahan yang langka. Menjadi pria yang bisa memberikan ketenangan di tengah hiruk-pikuk bukan berarti kamu malas; itu berarti kamu memiliki kendali penuh atas duniamu sendiri.
Aku tidak ingin menjadi pria yang menuntutnya untuk terus berjuang. Aku ingin menjadi tempat di mana dia boleh meletakkan pedangnya, menanggalkan baju zirahnya, dan menyadari bahwa keberadaannya saja sudah lebih dari cukup.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang seberapa banyak kita benar-benar hadir di setiap langkahnya.
Dan terkadang, langkah yang paling berarti adalah langkah yang kita ambil saat kita berhenti berlari.
Komentar
Posting Komentar