Aku tidak sepenting itu.
Kamu juga tidak sepenting itu.
Kita semua, pada akhirnya, tidak sepenting itu.
Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk merasa menjadi pusat dari banyak hal. Tatapan orang lain terasa seperti penilaian. Diam seseorang terasa seperti sindiran. Perubahan sikap dianggap respons terhadap keberadaan kita. Padahal sering kali, hidup orang lain berjalan karena keputusan mereka sendiri, bukan karena kita.
Tidak semua yang mengarah pada kita benar-benar tentang kita.
Gerak-gerik manusia lahir dari isi kepalanya, dari luka dan ambisinya, dari pikirannya sendiri yang kadang bahkan tidak berkaitan dengan kita. Seseorang bisa saja terlihat seperti sedang membicarakan kita, padahal ia hanya sedang membicarakan peristiwa. Kebetulan saja kita ada di dalamnya. Kebetulan saja nama kita terseret di situ.
Kita terlalu sering mengira dunia bereaksi atas keberadaan kita. Padahal sebagian besar waktu, dunia hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
Ini bukan tentang merendahkan diri. Bukan juga tentang merasa tidak berarti. Justru sebaliknya. Ada kebebasan yang muncul ketika kita menyadari bahwa tidak semua hal adalah tentang kita. Tidak semua sikap orang adalah respons atas nilai diri kita. Tidak semua kegagalan adalah hukuman personal. Tidak semua penolakan adalah penghakiman.
Kadang kita hanya sebuah kebetulan dalam cerita orang lain. Seperti mereka juga hanya kebetulan dalam cerita kita.
Kita tidak sepenting itu, tetapi juga tidak sepenuhnya tidak penting. Kita memiliki peran, namun bukan pusat semesta. Kita berarti, tetapi tidak selalu menjadi alasan.
Dan mungkin, menerima hal itu membuat hidup terasa lebih ringan. Kita berhenti memikul beban interpretasi yang tidak perlu. Kita berhenti merasa diserang oleh hal-hal yang bahkan tidak pernah ditujukan kepada kita.
Karena pada akhirnya, sebagian besar manusia sedang sibuk bertahan dengan hidupnya sendiri. Bukan sedang memikirkan kita.
Komentar
Posting Komentar