Harapan sering kali mengerucut pada satu frasa yang sederhana: mudah-mudahan. Ia bukanlah sebuah tanda dari jiwa yang sedang rapuh, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan antara nalar yang sudah bekerja keras dengan realitas yang tidak bisa didikte. Aku menyadari bahwa mengucapkan kata itu bukan karena aku sedang mencari pelarian dari kenyataan yang berat, melainkan karena aku sangat memahami bahwa tidak semua variabel dalam hidup berada di bawah kendaliku.
Bagiku, "mudah-mudahan" adalah sebuah titik di mana aku berhenti berisik dengan egoku. Ia muncul saat seluruh energi sudah dikerahkan dan setiap kemungkinan telah dihitung dengan presisi. Ia bukan sebuah bisikan yang gemetar di tengah ketakutan, melainkan sebuah sikap tenang dari seseorang yang sudah selesai dengan bagiannya. Aku tidak lagi menggunakannya sebagai tameng untuk menyembunyikan lelah, melainkan sebagai ruang bagi semesta untuk menunjukkan jalannya sendiri.
Banyak yang terjebak dalam delusi bahwa menjadi kuat berarti harus menguasai segala hal. Padahal, kedaulatan yang sesungguhnya ditemukan saat kita mampu berdiri tegak di tengah ketidakpastian tanpa merasa harus menggenggam segalanya. Aku tidak sedang berpegangan pada sesuatu karena aku merasa kecil, aku sedang menyelaraskan diri dengan frekuensi yang lebih luas. Ada keanggunan dalam mengakui bahwa nalar memiliki batasnya, dan di batas itulah integritasku diuji.
Aku tetap berjalan dengan punggung yang tegak, tanpa perlu menunjukkan bahwa ada bagian dari diriku yang sedang goyah. "Mudah-mudahan" bagiku adalah penanda bahwa aku masih memiliki keberanian untuk tetap bergerak, meski hasil akhirnya bukan aku yang menuliskan. Ia bukan sekadar harapan yang pasif, melainkan sebuah pengakuan bahwa aku adalah subjek yang telah berjuang secara utuh, dan kini aku memilih untuk memberikan ruang bagi takdir untuk menyelesaikan sisanya.
Komentar
Posting Komentar