Dalam hidup, setiap rasa selalu datang berulang, namun tidak pernah benar-benar sama. Seperti hari. Hari ini Kamis, minggu lalu juga Kamis, minggu depan pun Kamis. Namun tidak ada satu Kamis pun yang identik. Intensitasnya berubah, beban yang dibawa pun berbeda.
Begitu pula dengan perasaan. Luka, kegagalan, kehilangan, dan kebahagiaan bukan hal baru bagi manusia. Kita pernah merasakannya, mungkin sedang mengalaminya, dan sangat mungkin akan menemuinya lagi. Lalu muncul pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: jika semua ini berulang, mengapa kita tidak pernah benar-benar terbiasa?
Ada anggapan bahwa seseorang yang sering gagal akan semakin kebal terhadap rasa gagal itu sendiri. Seorang sahabat pernah berkata, penolakan pertama adalah bencana, penolakan kedua adalah bencana besar, dan selanjutnya hanyalah angka. Seolah rasa bisa berubah menjadi statistik. Seolah manusia bisa dilatih hingga tidak lagi merasa.
Namun hidup tidak sesederhana itu. Rasa tidak bekerja secara linier. Setiap peristiwa membawa konteks yang berbeda, harapan yang berbeda, dan taruhannya pun berubah. Maka kegagalan yang datang belakangan tidak lebih ringan, justru sering kali lebih berat karena ia menumpuk di atas pengalaman sebelumnya.
Menyalahkan seseorang karena tidak terbiasa pada rasa sakit adalah sikap yang terlalu arogan. Karena eskalasi emosi tidak hanya ditentukan oleh frekuensi, tetapi oleh banyak variabel yang tidak pernah bisa sepenuhnya dikendalikan. Usia, harapan, tanggung jawab, dan kelelahan batin ikut membentuknya.
Dulu kita bisa menangis karena tidak dibelikan mainan. Hari ini, hal itu tidak lagi berarti apa-apa. Bukan karena kita lebih kuat, tetapi karena kapal kita telah berubah. Kapal itu bernama kedewasaan. Namun hidup bukan hanya ombak kecil di bibir pantai. Ia adalah pelayaran panjang di laut lepas, tempat ombak kadang menghantam sekoci yang rapuh.
Sekoci itu mungkin pernah selamat dari gelombang sebelumnya, tetapi tidak pernah tahu seperti apa gelombang berikutnya. Maka kalimat, tidak peduli berapa kali kamu jatuh, hidup akan baik-baik saja jika kamu tahu cara berdiri, hanya berlaku bagi mereka yang sempat berdiri. Bagaimana dengan mereka yang belum sempat bangkit, namun sudah kembali dihantam?
Benarkah orang yang terbiasa kehilangan akan selalu baik-baik saja saat kehilangan kembali? Benarkah ujian hidup akan berhenti ketika seseorang lulus, sementara bentuk ujiannya terus berubah? Bagaimana seseorang bisa disebut lulus jika soalnya tidak pernah sama?
Hidup memang tidak bisa diantisipasi sepenuhnya. Setajam apa pun nalar manusia, selalu ada celah bagi kehidupan untuk menguji kesabaran, rasa syukur, dan penerimaan. Maka mungkin persoalannya bukan mengapa kita tidak terbiasa, tetapi mengapa kita terus dipaksa percaya bahwa manusia seharusnya bisa kebal.
Karena kenyataannya, manusia bukan makhluk yang dirancang untuk mati rasa. Kita hanya belajar bertahan, sambil terus merasa.
Komentar
Posting Komentar