Ada satu sisi dari ingatan manusia yang terkadang terasa sangat absurd. Kita sering lupa pada hal-hal besar, janji-janji manis, perayaan hari jadi, atau rangkaian kata yang disusun rapi untuk memuji. Namun, otak justru secara selektif mengarsipkan detail-detail remeh yang seharusnya sudah menguap begitu saja.
Hal-hal mikroskopis.
Seperti cara jemarinya yang secara tidak sadar selalu mengetuk meja tiga kali setiap kali ia merasa cemas. Atau bagaimana sesuatu yang ia kenakan, sesuatu yang tampak sangat sederhana, mungkin sedikit longgar di satu sisi, selalu ia rapihkan berulang kali saat sedang berpikir keras.
Aku juga mengingat aroma parfumnya, yang tidak pernah benar-benar tajam, namun selalu tertinggal di udara bahkan setelah ia beranjak pergi. Sesuatu yang samar, seperti perpaduan antara hujan dan buku tua. Dan cara ia termenung; tatapannya yang kosong, yang seolah sedang menarik diri dari kebisingan dunia ke dalam lanskap di dalam kepalanya sendiri. Ada jeda yang panjang setiap kali ia menarik napas sebelum akhirnya ia kembali menatap dunia, seolah ia sedang mengumpulkan kepingan dirinya yang sempat berserakan.
Mengingat detail-detail kecil ini terkadang terasa seperti sedang meninjau kembali arsip yang tidak pernah diminta.
Ada keheningan yang janggal saat menyadari bahwa aku menyimpan potongan-potongan perilaku tersebut dengan sangat detail. Detail yang tidak ia sadari, dan tentu saja tidak ia harapkan untuk diingat. Bagi dunia, ini adalah hal yang banal, tidak esensial, dan sama sekali tidak mengubah apa pun dalam peta hubungan manusia.
Namun, di balik rasionalitas yang selalu berusaha kupertahankan, ada kesadaran bahwa perhatian jenis ini adalah bentuk pengamatan yang jujur. Ia tidak lahir dari upaya untuk sekadar "peduli", melainkan dari kehadiran yang utuh. Ketika seseorang bersedia untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merekam, bukan hal-hal besar yang tampak di permukaan, melainkan gerak-gerik kecil, aroma yang tertinggal, dan cara ia menepi dalam lamunannya, itu berarti ia benar-benar hadir.
Arsip-arsip mikroskopis ini akhirnya menjadi bukti bahwa hubungan manusia tidak selalu dibangun dari peristiwa-peristiwa agung. Ia seringkali justru dirakit dari serpihan-serpihan kecil yang terselip; catatan sunyi tentang kebiasaan yang tidak disadari, dan fragmen kecil dari masa lalu yang dibiarkan hidup, meski hanya di dalam kepala sendiri.
Terkadang, mencintai atau sekadar menghargai kehadiran seseorang memang sesederhana itu: menjadi penjaga bagi hal-hal yang bahkan mereka sendiri sudah tidak ingat pernah memilikinya.
Komentar
Posting Komentar