Bagi orang beruntung, tidak ada hari keberuntungan. Karena setiap hari sudah cukup aman untuk dijalani. Hidup tidak selalu mudah bagi mereka, tapi jarang sekali benar-benar menjatuhkan. Jika satu pintu tertutup, selalu ada lantai yang masih menopang. Jika jatuh, ada tangan yang bisa diraih. Keberuntungan mereka bukan peristiwa, melainkan kondisi.
Sebaliknya, bagi orang yang sering disebut sial, tidak ada hari sial. Karena setiap hari selalu mengandung risiko. Hidup bagi mereka bukan tentang memilih yang terbaik, melainkan tentang menghindari yang paling buruk. Bukan soal ambisi besar, tapi soal bertahan agar tidak runtuh. Maka jangan heran jika mereka terlihat terlalu berhitung, terlalu waspada, terlalu lelah. Taruhannya memang tidak pernah kecil.
Orang sial sibuk mencari keberuntungan. Bukan karena serakah, melainkan karena keberuntungan bagi mereka adalah kebutuhan dasar. Seperti udara. Seperti jeda. Seperti satu hari tanpa harus menyelamatkan diri sendiri. Sementara orang beruntung tidak perlu menghindari kesialan dengan sungguh-sungguh, karena kesialan jarang merampas segalanya. Selalu ada bantalan. Selalu ada kesempatan ulang.
Di titik ini, perbedaan keduanya bukan pada usaha, bukan pula pada niat. Perbedaannya ada pada ruang. Orang beruntung punya ruang untuk gagal. Orang sial tidak. Satu kesalahan bisa menghapus seluruh progres. Satu langkah keliru bisa membawa mereka jauh ke belakang. Maka kewaspadaan mereka sering disalahartikan sebagai pesimisme, padahal itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap hidup yang terlalu sering tidak memberi ampun.
Ada orang yang berjuang agar hidupnya berubah. Ada pula orang yang berjuang agar hidupnya tidak runtuh. Keduanya sama-sama capek. Tapi hanya satu yang sering dianggap pantas dihargai. Yang satu disebut pejuang, yang lain disebut kurang bersyukur. Padahal yang terakhir hanya terlalu lama hidup tanpa jaring pengaman.
Keberuntungan terbesar bukan hidup tanpa masalah. Keberuntungan terbesar adalah hidup yang tidak menuntut seseorang untuk terus-menerus menyelamatkan dirinya sendiri. Dan mungkin, orang-orang yang disebut sial itu bukan kurang berusaha. Mereka hanya terlalu lama sibuk bertahan, sampai lupa bagaimana rasanya hidup tanpa siaga.
Komentar
Posting Komentar