Aku telah berhenti bertanya apakah dunia akan menyediakan panggung untuk merayakan kehadiranku. Dulu, aku mungkin merindukan riuh tepuk tangan atau pengakuan yang datang dari luar, seolah-olah arti hidupku ditentukan oleh seberapa sering namaku dipanggil. Namun kini, aku menyadari bahwa keberadaan yang paling kokoh adalah keberadaan yang tidak membutuhkan saksi untuk merasa nyata. Aku tidak lagi merasa menjadi kerikil yang diinjak oleh langkah-langkah yang acuh, karena aku adalah pondasi yang menopang duniaku sendiri dengan penuh kesadaran. Ada jenis kesunyian yang sering disalahartikan sebagai pengabaian. Orang-orang yang terbiasa hidup tanpa seremoni sering kali dianggap sebagai mereka yang kalah, padahal di dalam diam itu, sedang dibangun sebuah kepadatan jiwa yang tidak mudah digoyahkan oleh absennya validasi. Aku tidak lagi mencari jawaban atas pertanyaan mengapa aku berbeda dari mereka yang dicintai dengan riuh. Aku memahami bahwa cinta yang paling dewasa adalah cinta yang aku ...