Aku telah lama berhenti memandang tulisan sebagai sekadar cermin kejujuran yang murni. Bagiku, menulis adalah sebuah proses distilasi yang sangat personal. Sebuah cara untuk menata kekacauan di dalam kepala agar ia memiliki bentuk yang berwibawa. Aku tidak lagi takut terlihat berantakan di atas kertas; aku memahami bahwa kalimat-kalimat panjang tanpa jeda adalah arsitektur dari sebuah batin yang sedang memproses kedalamannya. Aku tidak sedang "menelanjangi diri" untuk mencari belas kasihan; aku sedang memetakan wilayah jiwaku yang paling liar.
Aku menyadari bahwa setiap manusia adalah narator yang licik bagi dirinya sendiri. Kita semua pernah berbohong, setidaknya untuk menutupi retakan yang belum siap kita perbaiki. Namun, aku memilih untuk menghadapi pertanyaan yang lebih tajam: Seberapa berani aku mengakui keinginan yang dianggap tidak manusiawi oleh dunia? Aku berhenti bersembunyi di balik topeng "orang baik" yang pasif. Aku mengakui bahwa di dalam diriku ada ego yang ingin menang, ada keinginan yang menuntut kepuasan, bahkan jika itu harus mengusik kenyamanan orang-orang di sekitarku.
Termasuk tentangmu.
Aku tidak lagi tertarik berperan sebagai korban yang terluka oleh keadaan. Jika kejujuranku tentang keinginan untuk memilikimu dianggap sebagai sebuah kejahatan, maka aku akan menerima label itu dengan punggung yang tegak. Aku memahami bahwa mencintai dengan intensitas yang mutlak sering kali berarti bersedia menjadi "penjahat" dalam narasi orang lain. Aku tidak lagi meminta izin kepada semesta untuk menginginkan apa yang kuinginkan. Kedaulatanku ditemukan saat aku berhenti berpura-pura tidak peduli, dan mulai mengakui bahwa keinginanku memiliki "berat jenis" yang sanggup mengguncang tatanan yang ada.
Pada akhirnya, menulis adalah caraku untuk menguasai bayangan-bayangan itu. Aku tidak menulis agar dimengerti oleh mereka yang hidupnya "baik-baik saja" di permukaan. Aku menulis untuk menetapkan koordinat keberadaanku sendiri. Aku mungkin terlihat gagap bagi mata yang terburu-buru, namun bagi mereka yang berani menyelam, mereka akan menemukan bahwa di balik setiap kekacauan kata, ada sebuah keputusan yang sangat dingin dan terencana. Aku bukan lagi korban dari perasaanku; aku adalah nakhoda yang sangat sadar akan badai yang sedang kuciptakan.
Komentar
Posting Komentar