Kita hidup di dunia di mana perempuan diajar untuk bersiap menghadapi pengkhianatan sejak hari pertama mereka mengenal arti hubungan. Wajar jika kemudian, cinta dari seorang pria tidak pernah bisa diterima begitu saja di atas meja. Ia selalu datang dengan bayang-bayang keraguan yang mengekor di belakangnya.
Orang-orang seolah sepakat untuk berasumsi bahwa niat seorang pria selalu punya udang di balik batu. Ketika dia mendekat, dicurigai mau memanfaatkan. Ketika dia memilih untuk bertahan, dicurigai punya agenda tersembunyi. Ketika dia mengatakan cinta, kata itu sering kali langsung disaring lewat saringan skeptisme, dianggap sebagai kalimat klise yang diobral demi memuluskan sebuah tujuan.
Cinta seorang pria diletakkan di atas meja bedah sebelum sempat ia buktikan bentuknya. Ia diuji oleh prasangka, dihakimi oleh luka-luka masa lalu yang bahkan tidak ia perbuat, dan dipandang dengan mata yang selalu mencari celah kebohongan.
Ada beban tersendiri yang jarang dibicarakan ketika seorang pria benar-benar tulus mencintai.
Kamu tidak hanya sedang merawat perasaan orang yang kamu sayang, tapi kamu juga sedang bertarung melawan bayangan masa lalu yang ditinggalkan oleh orang lain. Kamu harus membuktikan bahwa tangan yang kamu ulurkan bukanlah tangan yang akan mendorongnya jatuh. Kamu harus meyakinkan bahwa kata-katamu tidak punya tanggal kedaluwarsa, di tengah dunia yang sudah terlalu sering mengajarkannya untuk tidak percaya pada siapa pun.
Menjadi pria yang tulus di tengah dunia yang penuh curiga itu melelahkan. Sering kali, kamu ingin berteriak bahwa tidak semua pelindung adalah ancaman, dan tidak semua niat baik disembunyikan di balik topeng kepalsuan. Tapi kamu tahu, pembelaan diri hanya akan membuatmu terlihat semakin mencurigakan.
Maka, yang bisa kamu lakukan hanyalah bertahan. Menjadi konsisten di tengah keraguan yang menghujam.
Pada akhirnya, kita memang tidak bisa memaksa orang untuk langsung percaya. Jika keraguan itu adalah benteng pertahanan yang mereka bangun demi melindungi diri dari patah hati yang kesekian kali, maka tugas seorang pria yang mencintai bukanlah memaksa membongkar benteng itu.
Tugasnya adalah tinggal di luar gerbangnya, membuktikan dengan sabar dan sunyi, bahwa hujan badai apa pun yang datang, ia tidak akan pergi ke mana-mana. Karena terkadang, pembuktian paling jujur dari cinta seorang pria bukanlah kata-kata manis yang meyakinkan, melainkan kesabarannya untuk terus tinggal, bahkan ketika seluruh dunia, dan keraguan di kepalanya sendiri, menyuruhnya untuk menyerah.
Komentar
Posting Komentar