Pernah ada seseorang yang bertanya, "Sebagai pria, apakah kamu masih menyukai wanita?"
Tentu saja. Jawaban itu tidak pernah berubah. Namun, ironinya terletak pada intensitas dari rasa suka itu sendiri. Ada hukum yang sangat getir dalam hidup: semakin kita menginginkan sesuatu, semakin kita mengejarnya dengan nafsu yang membuncah, semakin kencang hal itu justru berlari menjauh.
Bukan karena ia takut atau membenci kita. Tapi karena pengejaran yang terlalu agresif menciptakan tekanan yang merusak keseimbangan. Keinginan yang meluap-luap sering kali mengubah kita menjadi sosok yang haus akan validasi, yang membuat kehadiran kita bukan lagi sebuah ketenangan, melainkan sebuah beban yang harus dihindari.
Dunia seolah-olah sedang mengadakan eksperimen sosial terhadap tekad kita.
Setiap kali kita mengejar, kita sebenarnya sedang menunjukkan ketidakpercayaan kita bahwa hal itu bisa menjadi milik kita secara alami. Kita mencoba memaksakan kehendak pada realitas. Namun, ada satu kesalahan logika besar yang kita pelihara: bahwa keberhasilan mencapai sesuatu adalah produk langsung dari seberapa keras kita "jungkir balik" mengejarnya. Kita percaya bahwa jika kita tidak berdarah-darah, tidak mengorbankan segalanya, atau tidak memaksakan kehendak, berarti kita tidak layak mendapatkannya.
Padahal, jika sesuatu memang ditakdirkan menjadi milikmu, ia tidak akan menuntutmu untuk hancur lebur hanya untuk meraihnya. Ia akan mengalir, bukan memaksa.
Hidup ini hanyalah sebuah permainan, dan kita sering kali kalah bukan karena kita kurang berusaha, melainkan karena kita tidak memahami aturan mainnya. Aturan mainnya bukan tentang seberapa keras kita berlari, melainkan tentang seberapa presisi kita menempatkan diri.
Mengejar adalah pengakuan akan kekurangan. Menarik adalah hasil dari kepenuhan.
Seseorang tidak perlu jungkir balik mengejar apa yang sudah menjadi garis takdirnya. Mungkin, rahasia dari ketertarikan bukan terletak pada seberapa cepat kita berlari mengejar, melainkan pada seberapa tenang kita berdiri saat yang kita inginkan memutuskan untuk bergerak. Jika ia lari menjauh, mungkin itu bukan milik kita. Dan jika ia adalah milik kita, ia tidak perlu dikejar dengan napas yang tersengal; ia hanya perlu ruang untuk menemukan jalan pulang ke tempat yang dirasanya aman.
Pada akhirnya, hasrat memang harus diuji. Bukan untuk membuktikan seberapa keras kita mampu menyiksa diri demi keinginan itu, tapi untuk membuktikan seberapa besar martabat yang sanggup kita jaga saat keinginan itu tidak segera terwujud. Kita hanya perlu tenang, paham aturannya, dan membiarkan semesta bekerja tanpa harus kita paksa.
Komentar
Posting Komentar