Ada satu jenis kehampaan yang paling menyesakkan: yaitu saat kamu akhirnya menggenggam apa yang dulu kamu yakini sebagai segalanya, lalu menyadari bahwa genggaman itu terasa tidak berarti apa-apa. Kamu tiba di garis finis, menoleh ke belakang, dan bertanya dengan nada yang sangat jujur: "Benarkah aku menginginkan ini?"
Perasaan ini sering datang seperti tamu tak diundang. Kita menghabiskan tahun-tahun terbaik untuk mengejar sebuah bayang-bayang. Kita memoles impian itu, memberinya warna, membayangkannya sebagai obat penawar bagi segala keresahan hidup. Namun, saat realitas itu akhirnya terjadi, saat apa yang dulu hanya ada di kepala kini menjadi nyata didepan mata, kita justru mendapati bahwa rasanya tidak sebesar pengharapan itu sendiri.
Apakah ini tanda bahwa mimpi itu basi? Mungkin. Atau lebih tepatnya, mimpi itu adalah milik seseorang yang sudah tidak ada lagi di dalam dirimu.
Namun, pertanyaan yang lebih menusuk adalah: mengapa selera itu hilang?
Seseorang yang tadinya hidup dalam kelaparan, yang memimpikan meja perjamuan penuh hidangan, kini duduk di sana dengan tangan yang membeku dan mulut yang kaku. Ini bukan keserakahan, karena keserakahan adalah tentang menginginkan lebih. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih ganjil: sebuah ketidakmampuan untuk menikmati apa yang sudah ada di depan mata.
Kenapa tangan itu tidak bergerak? Kenapa selera itu mati?
Mungkin karena selama proses mengejar hidangan itu, kita telah menukar kapasitas kita untuk "menikmati" dengan kapasitas kita untuk "bertahan". Kita telah terbiasa hidup dalam mode kelaparan, sehingga ketika perjamuan itu akhirnya tersaji, sistem saraf kita sudah tidak lagi mengenali rasa nikmat. Kita hanya mengenali rasa lelah.
Atau mungkin, ada jawaban yang lebih gelap: kita telah benar-benar kenyang dengan kelaparan itu sendiri.
Kita menghabiskan begitu banyak waktu dalam mode "ingin", mode "butuh", hingga kelaparan itu bukan lagi sekadar sensasi, melainkan identitas yang melekat erat. Kita terbiasa hidup dalam irama kekurangan. Dan ketika akhirnya meja itu penuh, kita merasa asing. Kita tidak lagi tahu cara hidup tanpa rasa lapar. Kelaparan yang berkepanjangan telah mengubah metabolisme jiwa kita; kita telah terlalu "kenyang" dengan rasa haus yang terus-menerus. Jadi, saat perjamuan itu tiba, kita kehilangan selera bukan karena makanannya buruk, tapi karena kita sudah terlalu lelah menjadi manusia yang selalu merasa kurang.
Dan ada pula kemungkinan lain: apa yang kita kejar ternyata bukanlah makanan yang kita butuhkan.
Selama ini kita mungkin hanya memakan apa yang "dijual" oleh dunia sebagai hidangan lezat. Kita memaksakan diri menyukai apa yang disukai orang lain, mengejar apa yang dikatakan sukses oleh orang lain, dan ketika hidangan itu akhirnya ada di meja kita, lidah kita menolak. Itu adalah penolakan dari nurani yang sebenarnya tahu bahwa ini bukanlah makanan yang memuaskan jiwa.
Tangan yang kaku dan mulut yang terkatup itu adalah reaksi biologis atas kebohongan yang kita pelihara sendiri.
Ketakutan akan "tidak tahu hidup seperti apa yang ingin dijalani" sebenarnya adalah sebuah titik balik, bukan sebuah kegagalan. Kehampaan yang kamu rasakan ini adalah ruang kosong yang sangat berharga. Jangan terburu-buru mengisinya dengan ambisi baru hanya untuk menghindari rasa sepi.
Kadang, kita perlu duduk di titik ini, di tengah kebingungan dan ketidakpuasan, untuk benar-benar menyadari bahwa hidup bukanlah tentang mengumpulkan pencapaian satu per satu di meja makan. Hidup adalah tentang memurnikan kembali selera kita.
Jika saat ini kamu merasa tidak lagi mengenali apa yang kamu inginkan, mungkin itu adalah tanda bahwa kamu sedang naik kelas. Kamu sedang dalam fase untuk berhenti menginginkan "sesuatu" dan mulai mencari "makna". Tanganmu yang kaku itu bukanlah tanda kamu rusak; itu adalah tanda bahwa kamu sudah berhenti memakan apa yang tidak lagi menyehatkan jiwamu.
Tidak apa-apa jika mimpi itu terasa basi. Itu tandanya kamu sudah kenyang dengan kepalsuan. Sekarang, biarkan dirimu merasa lapar lagi, namun kali ini, pastikan makanan yang kamu cari adalah sesuatu yang benar-benar bisa memberimu nutrisi, bukan sekadar pelipur lara untuk rasa cemas yang sudah lama lewat.
Komentar
Posting Komentar