Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk merapikan dunia agar muat ke dalam kotak bernama logika. Kita menganggap nalar sebagai penggaris absolut yang bisa mengukur segala hal yang ada di alam semesta. Jika sesuatu tidak bisa dijelaskan oleh kausalitas, jika sesuatu tidak punya bukti empiris yang bisa dipegang, kita dengan cepat melabelinya sebagai "omong kosong" atau "tidak masuk akal."
Tapi, bukankah ini bentuk arogansi yang sangat purba?
Kita memperlakukan logika seperti sebuah jangkar. Ia memang penting untuk menjaga kita tetap berpijak di atas tanah, agar tidak hanyut dalam kekacauan persepsi. Namun, menganggap bahwa jangkar itu adalah satu-satunya benda yang ada di lautan adalah kekeliruan besar.
Jika sistem penalaran manusia hanya mampu menjangkau sebatas bumi, apakah lantas kita harus mengingkari keberadaan bulan dan matahari hanya karena mereka berada di luar jangkauan penggaris kita? Jika cakrawala nalar kita hanya sebatas Bimasakti, apakah bijak jika kita menolak kemungkinan adanya galaksi lain yang hukum fisika dan eksistensinya tidak pernah terpikirkan oleh bahasa manusia?
Mungkin, "tidak masuk akal" hanyalah cara kita mengakui bahwa perangkat lunak di dalam kepala ini memiliki batasan kapasitas. Akal adalah instrumen, bukan kebenaran itu sendiri. Ia adalah lensa yang membantu kita melihat sebagian dari realitas, namun lensa yang sama juga membatasi apa yang bisa kita lihat.
Menyebut sesuatu sebagai "salah" hanya karena kita tidak mampu melogikanya adalah cara termudah untuk menghentikan eksplorasi. Itu adalah tembok yang kita bangun sendiri agar kita bisa merasa aman, agar kita bisa merasa bahwa kita telah memegang kendali atas misteri kehidupan.
Ada kebebasan intelektual yang luar biasa ketika seseorang berani mengakui: "Aku tidak tahu, dan mungkin logikaku memang belum sampai ke sana."
Mengakui adanya hal-hal yang melampaui nalar bukan berarti menjadi tidak rasional atau terjebak dalam takhayul. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk tertinggi dari rasionalitas, kesadaran bahwa alam semesta ini terlalu luas, terlalu kaya, dan terlalu kompleks untuk diringkas hanya dalam hitungan matematis atau deduksi yang sempit.
Terkadang, kebijaksanaan bukan tentang memaksakan segala hal agar menjadi masuk akal. Kebijaksanaan adalah tentang berdiri di depan tembok logika kita sendiri, menatap ke arah misteri yang tak terjawab, lalu tersenyum, menyadari bahwa tidak semuanya harus bisa dipahami untuk bisa dianggap ada.
Komentar
Posting Komentar