Ada satu kata tanya yang menjadi akar dari hampir seluruh kecemasan manusia: kapan?
Kapan aku menikah? Kapan semua penderitaan ini berakhir? Kapan aku akan mati? Kita melempar pertanyaan-pertanyaan ini ke ruang hampa, berharap akan ada gema yang datang membawa kepastian. Kita memikul harapan di pundak, mencoba mengukur ketidakpastian dengan jam dinding, seolah waktu adalah entitas yang bisa diajak bernegosiasi.
Ketika desakan itu mencapai titik nadir, saat rasa takut akan ketidaktahuan sudah tak lagi tertahankan, manusia sering kali berlindung di balik frasa pamungkas: "Biar waktu yang menjawab."
Kita mengucapkannya dengan nada yang terdengar bijak, seolah-olah waktu adalah hakim agung yang sedang menyusun putusan di balik layar. Namun, jika kita cukup berani untuk membongkarnya, kalimat itu hanyalah bentuk penyerahan diri yang paling halus. Itu adalah cara kita memarkir kecemasan di tempat yang jauh agar tidak perlu kita hadapi sekarang.
Padahal, waktu bukanlah sosok yang hidup. Ia tidak punya kesadaran, tidak punya moral, dan tidak punya kepedulian pada harapan-harapan yang kita titipkan. Waktu hanyalah medium, sebuah garis lurus yang terus berjalan, acuh tak acuh, di atas penderitaan maupun perayaan kita. Ia tidak "menjawab" apa pun. Ia hanya memberikan ruang bagi segala sesuatu untuk terjadi, atau tidak terjadi sama sekali.
Menggantungkan jawaban pada waktu adalah cara kita menghindari realitas. Kita tahu, atau setidaknya bisa merasakan, jawaban apa yang sebenarnya sedang kita hindari. Jawaban itu mungkin sudah ada di depan mata, namun ia terlalu pahit atau terlalu menyakitkan untuk diakui, sehingga kita memilih untuk membuang tatapan ke masa depan. Kita menunggu waktu "menjawab", padahal waktu hanyalah saksi bisu dari keputusan-keputusan yang kita tunda atau ketakutan yang kita pelihara.
Mungkin, alih-alih bertanya "kapan", kita perlu berhenti sejenak dan melakukan audit internal. Apakah kita benar-benar sedang menunggu jawaban, atau kita sebenarnya sedang menunggu keberanian?
Tidak ada keajaiban yang akan muncul dari detik yang berganti. Waktu tidak akan pernah duduk di seberang meja, menatap mata kita, dan memberikan klarifikasi atas nasib. Jawaban atas ketidakpastian itu bukanlah sesuatu yang datang seiring berjalannya hari, melainkan sesuatu yang kita bentuk melalui langkah-langkah yang kita ambil, atau langkah yang kita putuskan untuk tidak diambil, di tengah kabut.
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa waktu tidak pernah menjawab apa pun. Waktu hanya berlalu, membiarkan kita menua dan mencoba memahami apa yang sebenarnya tidak pernah memerlukan jawaban. Dan mungkin, di sanalah letak ketenangan yang sesungguhnya: berhenti memburu jawaban pada hal-hal yang memang tidak akan pernah bicara.
Komentar
Posting Komentar