Kita sering dibesarkan dengan dongeng bahwa hidup adalah sebuah bangunan yang sudah memiliki pilar-pilar penyangga yang pasti. Kita diajarkan bahwa ada "orang tua" yang menjadi fondasi, "teman" yang menjadi dinding penyangga, atau "pasangan" yang menjadi atap pelindung. Kita menganggap bahwa setiap orang memulai dengan starter pack yang sama: sebuah kastil yang siap huni dengan taman bunga di halaman depannya.
Namun, bagi mereka yang akrab dengan kehilangan, cetak biru itu pudar oleh takdir.
Kita memulai dengan tanah kosong. Tidak ada pilar yang tertanam, tidak ada dinding yang sudah berdiri. Kita dipaksa oleh keadaan untuk menjadi semuanya: kita adalah atap yang harus menahan terik dan hujan sendirian, kita adalah tiang yang memikul beban eksistensial, kita adalah dinding yang menahan badai, sekaligus lantai yang menjadi tumpuan bagi langkah kita sendiri. Ini bukan pilihan gaya hidup; ini adalah arsitektur yang lahir dari keterpaksaan.
Karena kita membangun dari ketiadaan, hasilnya pun berbeda. Kebanyakan dari kita tidak membangun kastil dengan taman bunga. Kita membangun bungker.
Bungker adalah bangunan yang jujur. Ia tidak memedulikan estetika. Ia tidak butuh taman bunga yang bisa layu jika tidak dirawat. Bungker hanya butuh dua hal: kekuatan struktur dan keamanan. Saat hidup telah mencabut semua sosok yang seharusnya ada, sosok yang membuat kita merasa aman untuk "membuka pintu", kita berhenti percaya pada konsep kastil. Kita berhenti percaya pada keindahan yang terbuka.
Kita membangun bungker karena dunia di luar sana terlalu sering melihat retakan di dinding kita sebagai celah untuk menyusup. Begitu orang-orang melihat ada ruang kosong di tempat yang seharusnya diisi oleh figur berharga, mereka tidak datang untuk membantu menambalnya. Sebagian besar justru datang untuk memanfaatkan kerentanan itu. Mereka datang untuk mengambil, untuk menguji seberapa cepat bangunan kita bisa runtuh.
Maka, kita menutup semua celah. Kita tidak lagi menaruh kaca besar yang memperlihatkan ke dalam. Kita mempertebal beton, kita memasang kunci ganda, kita tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk masuk tanpa izin. Kita menjadi sangat defensif, bukan karena kita benci dunia, tapi karena kita lelah harus terus memperbaiki bangunan yang disabotase oleh ekspektasi orang lain.
Mungkin terlihat dingin dari luar. Mungkin terlihat kaku. Tapi bagi pemiliknya, bungker ini adalah tempat pertama di mana kita merasa benar-benar bisa bernapas.
Di dalam bungker ini, tidak ada lagi rasa cemas akan siapa yang akan pergi, karena tidak ada siapa-siapa di sini selain diri kita sendiri. Kita tahu setiap inci kekuatannya, kita tahu titik mana yang paling rentan, dan kita tahu persis bahwa jika bangunan ini harus tetap berdiri, ia harus dibangun dengan standar ketahanan yang tidak main-main.
Namun, hidup tidak selalu tentang menutup pintu selamanya.
Ada kalanya, di tengah keheningan bungker yang dingin, datang seseorang yang tidak mencoba mendobrak pintu, melainkan hanya duduk di depan gerbang dengan sabar. Seseorang yang tidak menuntut kita merobohkan dinding, tapi mengerti mengapa dinding itu ada. Dan kepada seseorang yang langka inilah, kita akhirnya memutuskan untuk memutar tuas kuncinya.
Bukan karena kita ingin mengubah bungker menjadi kastil, itu sudah terlambat, tapi karena kita ingin membiarkan seseorang masuk.
Seseorang yang datang bukan dengan janji untuk membangun taman bunga, tapi dengan kuas di tangannya. Ia mulai menggoreskan warna di antara dinding-dinding beton kita yang kelabu, mengisi kekosongan dengan kehadirannya yang tidak menuntut. Ia tidak mengeluh tentang lantai kita yang dingin; ia justru duduk di sana, membagi suhu tubuhnya dengan beton yang beku, membuat ruang yang tadinya hanya tempat bertahan hidup, perlahan berubah menjadi tempat untuk benar-benar tinggal.
Ia tidak menghapus arsitektur kehilangan yang telah kita bangun, ia hanya memberinya warna. Ia membuat bungker ini tidak lagi terasa seperti persembunyian, tapi seperti rumah. Dan mungkin, itulah satu-satunya "kemenangan" bagi kita yang terbiasa membangun segalanya sendirian: menemukan seseorang yang cukup sabar untuk menghargai dinginnya bungker kita, dan cukup hangat untuk membuat kita lupa bahwa dulu, kita pernah merasa harus hidup sendirian.
Dan saat bangunan itu telah selesai dibangun, di antara banyak perang, kemenangan itu adalah milik mereka yang bertahan dalam bangunan yang ia ciptakan dari cetak biru kehilangan.
Komentar
Posting Komentar