Dunia gemar menyodorkan dua narasi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ada penganut paham "menabung masa depan", mereka yang rela mengikis habis masa mudanya, menukar jam tidur dan ketenangan batin dengan janji samar akan kenyamanan di hari tua. Di sisi lain, ada narasi "hiduplah hari ini", mereka yang percaya bahwa masa depan adalah ilusi, maka nikmatilah hari ini seolah tidak akan ada esok.
Keduanya, menurutku, adalah bentuk ekstrem yang sama-sama menyesatkan.
Namun, di antara dua kutub yang bising itu, ada golongan yang jarang dibicarakan. Mereka yang masa mudanya keras, penuh dengan kerja lembur, penuh dengan ketidakpastian, tapi masa depannya pun tidak tampak menjanjikan apa-apa. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kemewahan untuk "menikmati hari ini" karena beban hidup, namun juga tidak memiliki jaminan bahwa pengorbanan mereka akan membuahkan masa tua yang manis.
Banyak yang bertanya, hidup macam apa ini? Apakah ini bisa disebut hidup yang layak?
Menjawab ini membutuhkan pergeseran sudut pandang. Kita sering mendefinisikan "layak" hanya dari hasil akhir atau akumulasi pencapaian. Kita terjebak dalam algoritma yang mengatakan bahwa hidup hanya berharga jika ada "output" yang terukur, entah itu harta di masa depan atau kenangan hedonis di masa kini.
Padahal, hidup yang layak tidak ditentukan oleh seberapa besar tabungan yang kita kumpulkan, atau seberapa bebas kita bersenang-senang. Hidup yang layak adalah hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh, bahkan dalam ketidakpastian sekalipun.
Jika masa mudamu saat ini terasa keras tanpa ada jaminan masa depan yang cerah, jangan memandangnya sebagai kegagalan atau sebuah "masa tunggu" yang sia-sia. Masalahnya bukan pada realitas bahwa masa depanmu tidak pasti, tapi pada kebiasaan kita yang terus-menerus menunda makna. Kita sering merasa bahwa hidup baru akan "layak" nanti, setelah sukses, atau setelah bisa bersenang-senang.
Ternyata, hidup yang layak justru ada pada proses "menjadi" di tengah kerumitan tersebut.
Ada kehormatan dalam bekerja keras, bahkan ketika kamu tidak tahu ke mana arahnya. Ada kedewasaan dalam merawat diri di tengah kelelahan, meski tidak ada janji bonus di akhir bulan. Hidup yang layak adalah ketika kamu berhenti memandang masa mudamu hanya sebagai "investasi" atau "pesta", dan mulai memandangnya sebagai sebuah perjalanan yang valid untuk dialami, apa pun bentuknya.
Jangan biarkan dirimu merasa bahwa masa mudamu adalah barang yang terbakar sia-sia. Jika hari ini kamu berjuang, maka perjuangan itu sendiri adalah bentuk kehidupan. Kamu tidak sedang menunggu masa depan; kamu sedang membentuk dirimu hari ini. Dan itulah, sejauh yang aku pahami, arti hidup yang layak, tidak diukur dari seberapa besar tujuannya, tapi dari seberapa tegak dan berkesadaran kita menjalaninya, meski di tengah kabut yang paling tebal sekalipun.
Komentar
Posting Komentar